Inspirasi, Motivasi

Usia 25 Bukan Hanya Tentang Menikah dan Berkeluarga, tapi Bagaimana Berkarya dan Membangun Usaha

images : Liputan6.com

Kapan nih mau nikah?

Mamah udah pengen punya cucu tuh…

Eh, temen kamu anaknya udah 2 lho…kamu kapan nyusul?

Pertanyaan-pertanyaan itu akan sering kamu dengar ketika usiamu mulai memasuki angka 25. Untuk kebanyakan orang, usia 25 tahun merupakan gerbang menuju masa depan. Ketika bisa memanfaatkannya, maka kamu akan menikmati hari tua dengan tenang. Namun jika gagal, jangan menyesal kalau hidupmu akan penuh drama dan perjuangan.

Kenapa di usia 25 sih? Tidak di usia 30 atau 35? Sebab di usia itu rata-rata orang sudah menamatkan seluruh jenjang pendidikannya, setidaknya sampai D3. Secara otomatis mereka akan mulai bekerja untuk mempersiapkan masa depannya. Baik laki-laki maupun perempuan, sebagian besar pasti akan mencari pekerjaan terlebih dahulu sebelum menikah.

Kamu tentu masih merasa punya hutang kepada orang tua kalau lulus kuliah belum bekerja. Karena itulah pekerjaan menjadi prioritas utama kamu. Nah kalau pekerjaan sudah didapat, maka yang dilakukan setelah itu adalah menikah. Pandangan hidup yang tidak salah, namun terlalu sederhana.

Boleh sih menikah, tapi apa kamu sudah benar-benar membahagiakan orang tuamu?

images : http://www.gulalives.co

Menjadi kebahagiaan tersendiri bagi setiap orang tua yang mampu menyekolahkan anaknya sampai jenjang tertinggi. Dengan sangat bangganya mereka akan cerita ke tetangga dan sanak saudara, “itu lho anakku sudah jadi sarjana”. Dan kebangaan itu tidak dapat ditukar dengan apapun. Meski selama kuliah nyaris seluruh harta-benda keluargamu terjual, namun kepuasan serta kebanggaan melihatmu menjadi sarjana sudah cukup untuk menebus itu.

Kebahagiaan mereka semakin bertambah ketika kamu mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Seakan-akan kewajiban mereka sebagai orang tua sudah hampir selesai. Sayangnya tidak semua orang berfikir untuk membalas jasa kepada orang tuanya dulu. Mungkin kamu akan menyerahkan gaji pertamamu kepada mereka. Tapi setelah itu pikiranmu pasti akan penuh dengan rencana serta ambisi pribadimu saja.

Mulai dari rencana punya kendaraan pribadi, rumah sendiri sampai menikah dengan pujaan hati. Orang tua bagaimana? Ah, sisihkan saja sebagian dari gaji untuk mereka. Belum lagi kesibukanmu yang membuat waktu berinteraksi dengan mereka semakin terbatas.

Padahal yang diharapkan orang tua bukan sekedar itu saja. Mereka ingin melihatmu benar-benar dewasa sebelum nanti memutuskan berkeluarga. Saat kamu benar-benar dewasa, kamu berarti dapat dengan bijaksana membagi waktumu untuk pekerjaan dan orang tua. Kalau sekarang kamu saja masih bingung membaginya, bagaimana nanti kalau sudah berkeluarga?

Dengan keputusanmu untuk segera menikah, berarti kamu harus siap untuk membagi pikiranmu setidaknya untuk tiga hal, yaitu pekerjaanmu, keluargamu, dan orang tuamu. Kalau kamu kira-kira belum bisa melakukannya, ada baiknya kamu pikir baik-baik terlebih dahulu sebelum melangkah.

Bersyukur itu wajib, tapi jangan sampai berpuas diri

images : http://blog.laruno.com

Karena sudah memiliki pekerjaan yang sesuai, sudah sewajarnya kamu bersyukur dengan keadaanmu saat ini. Tapi apa iya cuma sampai disitu saja?

Sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain. Ketika kamu menjadi seorang pegawai, maka kamu akan memberikan manfaat bagi kantor tempatmu bekerja. Namun untuk masyarakat sekitarmu, bisa jadi kamu belum memberikan apa-apa. Berada di zona nyaman terkadang membuat orang lupa, kalau masih ada orang di sekitarnya yang membutuhkan bantuan.

Sesekali keluarlah dari zona nyaman yang saat ini kamu jalani. Mungkin teman-temanmu masih banyak yang belum punya pekerjaan sebagus kamu. Ajak mereka berkarya dan membangun usaha. Kamu bisa mengumpulkan modal dengan gaji yang kamu dapatkan dari kantormu. Ketika usahamu berhasil, tentu akan ada kepuasan tersendiri karena bisa membantu teman sekaligus mendapat keuntungan.

Satu hal yang perlu kamu pahami, berkarya dan membangun usaha itu tidak selalu harus disertai pengunduran diri dari tempat kerja. Banyak hal yang bisa dilakukan bersamaan. Tinggal bagaimana cara kamu mengatur waktu, sehingga semua dapat berjalan dengan baik. Kalau bisa punya 2, kenapa harus puas dengan 1 ?

Ingat, usia 25 adalah tahapan awal memasuki usia produktif. Manfaatkan itu sebaik mungkin. Jangan sampai  terlewatkan begitu saja. Kalau semua hal itu sudah kamu lakukan dan sudah merasa cukup dewasa untuk berkeluarga, maka artinya kamu sudah menjadi seorang calon suami/istri yang berkompeten. Punya titel sarjana, sudah membahagiakan orang tua, punya pekerjaan tetap, memiliki usaha sampingan dan berguna bagi masyarakat sekitar. Benar-benar menantu idaman mertua.

 

Comments

comments