Inspirasi, Kisah Nyata

Betapa Sulitnya Bergabung di Grup Whatsapp Lintas Generasi

images : http://www.rumah-multimedia.com

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat ini siapa sih yang tidak kenal WhatsApp? Layanan pesan instan terpopuler di dunia dengan lebih dari satu milyar pengguna. Dengan segala kemudahannya whatsapp bisa diterima oleh seluruh lapisan masyarakat. Khususnya di negara kita ini, sangat aneh rasanya kalau di jaman yang modern ini ada orang yang tidak punya whatsapp.

Di awal masuknya hp dengan sistem android mungkin orang-orang generasi baby boomers dan generasi x masih bertahan dengan hp nit-nit kebanggaannya. Alasannya sederhana, yaitu tidak ribet dan baterai yang awet. Namun semua itu langsung berubah ketika mereka berkenalan dengan whatsapp yang ada di gawai anak-anaknya maupun teman sekantornya.

Apalagi fitur grup yang membuat para pengguna bisa saling berkomunikasi bersama-sama. Selain mempermudah jalinan komunikasi, salah satu keunggulan fitur ini adalah tidak lemot meski penggunanya ratusan. Mereka yang tidak punya WA pasti akan langsung dicap ketinggalan jaman  karena seringkali ketinggalan informasi yang tersebar dengan cepat via grup WA ini.

“Makanya punya WA donk”

Begitu kiranya kalimat yang sering muncul untuk meledek mereka yang tidak punya WA. Akhirnya dengan segala keterbatasan yang ada, jadilah para orang tua yang sebenarnya lebih perlu  menyisihkan uang untuk dana pensiun itu menjadi menyisihkan uangnya untuk membeli gadget android keluaran terbaru agar bisa menikmati fitur WA.

Kalau anda adalah seorang generasi baby boomers yang tinggal di perkotaan serta termasuk kalangan atas, tentu bukan perkara sulit sebab sudah menjadi kebiasaan serta kewajiban untuk mengikuti setiap perkembangan teknologi yang ada. Tapi lain cerita kalau anda seorang pegawai biasa yang hidup jauh dari perkotaan tetapi termasuk kalangan menengah yang mau dibilang miskin tidak, kaya pun masih jauh. Untuk beli hp android setidaknya anda harus meminjam uang dulu di koperasi kantor ataupun jual kambing setidaknya satu ekor dan sayangnya itu pun belum tentu dapat hp baru.

Yang membuat kurang  ajar tentu saja hasutan dari para generasi millenial yang pintar ngompori para orang tua ini. “Ayolah pak, beli merk yang itu saja sudah terbukti kualitasnya, tidak usah tanggung-tanggung.” Karena belum tahu, orang tua itupun menurut saja. Jadilah beberapa bulan kemudian mereka harus ngirit uang belanja karena gajinya sudah terpotong untuk beli hp tadi.

Apakah sampai disitu saja perjuangan orang tua ini untuk bisa whatsapp-an? Tentu tidak. Perjalanan masih panjang bung, nona. Mereka pasti akan disibukkan dengan pengenalan paket data. Setelah itu baru mempelajari cara membuat email, mendaftar di playstore dan barulah mendownload whatsapp. Proses tersebut bisa memakan waktu beberapa jam, itu juga kalau jaringan lancar.

Setelah itu barulah babak baru dalam hidup generasi tua ini dimulai. Ketika sudah punya WA, pasti hal pertama yang dilakukan adalah menanyai teman-teman yang ada di kontak hpnya apakah punya WA atau tidak. Kalau punya sudah pasti akan langsung dikirimi chat “test”. Ketika ada respon barulah mulai berkirim pesan atau gambar yang tidak jelas dan tidak penting. Namanya juga mainan baru, sudah pasti dimainin terus karena sangat menghibur.

Setelah lancar menggunakannya, para orang tua inipun lalu saling rerasan untuk membentuk grup agar mempermudah komunikasi. Mulai dari grup RT, grup kelurahan, grup kantor sampai grup alumni dari tingkat SD sampai SMA. Jadilah di kontak WA mereka memiliki bermacam-macam grup tadi. Jangan heran kalau melihat orang tua yang hobinya ngelihat hp terus, itu tandanya dia adalah seorang aktivis grup WA yang tengah sibuk membalas satu demi satu pesan di grup maupun jalur pribadinya.

Namun yang cukup mengesalkan adalah ketika kita yang notabene seorang generasi millenial ini tergabung dalam grup WA yang isinya lintas generasi. Rasanya serba salah dan kurang nyaman. Mau berbagi video hana anisa meme-meme yang sedang hits saja mungkin kita tidak akan ditanggapi sebab mereka yang menerima kebanyakan tidak mengerti apa yang kita bahas.

Sedangkan kalau kita mau berbagi konten yang agak serius, sudah pasti akan ditanggapi lebih serius lagi. Misalnya saja ketika kita membahas pentingnya tahilan, mereka yang tidak sependapat dan cenderung “keras” akan langsung menyerang kita dengan beragam alasan yang mereka miliki. Belum lagi ceramah beserta dalil-dalilnya yang akan langsung masuk ke jalur pribadi.

Itu baru dari segi berbagi konten. Dari segi pembicaraan terkadang kita juga tidak nyambung. Guyonan orang tua tentu berbeda dengan guyonan kita yang masih muda ini. Kalaupun ada kesamaan mungkin hanya  bag-bagan “urusan kasur” yang memang mudah dicerna semua kalangan. Belum lagi dari guyonan garing dan lawas semacam meme “malam jumat” ataupun “korban perasaan” saat idul adha yang masih sering muncul. Mau dikomentari basi tapi kok yang ngirim orang tua, akan tetapi kalau dibiarin kok njelehi.

Satu-satunya cara berdamai dengan grup lintas generasi yang juga tidak mungkin kita tinggalkan itu adalah dengan mengaktifkan mode silent pemberitahuan grup untuk jangka waktu yang paling lama (1 tahun). Setelah itu jadilah silent rider, tak perlu berkomentar dan cukup menanggapi ketika dipanggil saja. Dengan begitu segala hal yang kita anggap tidak penting bisa menjadi angin lalu saja. Jangan lupa juga abaikan fitur download otomatis, agar bisa memfilter foto maupun video yang akan kita download.

Cara berdamai diatas mungkin terlihat sepele. Iya sepele buat kamu yang memang melek teknologi. Tapi buat mereka yang untuk membuat email saja masih harus bertanya kemana-mana, mungkin saran saya diatas akan sangat membantu. Kalau saran saya pribadi sih mendingan grup whatsapp itu untuk kalangan yang pemikirannya sama. Ingat umur berbeda bukanlah suatu masalah asalkan pemikirannya tetap sama.

Sebab selain bisa berkomunikasi dengan baik, tentunya tidak ada yang risih kalau ada yang mau berbagi file-file yang agak riskan seperti video hana anisa laporan keuangan kantor. Semoga saja kita dihindarkan serta dijauhkan dari orang-orang garing dan tidak penting di grup whatsapp.

 

 

Comments

comments