Bola, Olahraga

Italia Harus Belajar Banyak dari Belanda dan Indonesia

Dini hari tadi dalam waktu Indonesia, hampir sebagian besar masyarakat Italia menangis. Mereka semua menangis sambil meratapi kegagalan Gli Azuri berlaga di perhelatan Piala Dunia. Tiga pemain yang turut membawa Italia juara Piala Dunia 2006 yaitu Gianluigi Buffon, Danielle de Rossi dan Barzagli langsung memutuskan pensiun dari timnas. Sebuah akhir yang jauh dari kata manis bagi mereka betiga, lebih tepatnya disebut sebagai akhir yang tragis.

Sebagai kolektor 4 gelar piala dunia, jelas kegagalan ini menjadi aib tersendiri bagi Italia. Idealnya mereka akan ikut bersaing dengan kolektor gelar piala dunia lainnya seperti Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol, Brasil, Argentina dan Uruguay untuk menjadi raja di tanah Rusia tahun depan nanti. Sayangnya hidup ini tidak selalu ideal dan kenyataan itulah yang harus dihadapi Italia.

tangisan Buffon via tribunnews

Ironisnya lagi, terakhir kali mereka absen adalah di gelaran piala dunia 1958 yang ketika itu berlangsung di Swedia, negara yang tadi malam bertahan habis-habisan untuk merebut tiket sisa ke Rusia. Kalau melihat fakta pertandingan tadi malam dimana Italia sangat mendominasi jalannya pertandingan, sangatlah wajar kalau Buffon menitikkan air matanya di akhir pertandingan. Namun kalau harus melihat kebawah, mereka seharusnya bersyukur karena masih ada negara yang sekedar untuk tampil di play off saja tidak bisa apalagi sampai memimpikan juara.

Selain Italia salah satu negara “besar” yang absen di piala dunia adalah Belanda. Negeri kincir angin tersebut harus puas sebagai penonton pergelaran akbar itu  setelah hanya mampu duduk di peringkat tiga kulifikasi grup. Dibandingkan dengan Italia jelas absennya Belanda ini lebih tragis. Pasalnya negara yang pernah menjajah Indonesia selama 350 tahun tersebut baru saja menjadi runner-up di piala dunia 2010 dan menempati peringkat 3 di piala dunia 2014 lalu.

Kalaupun ada penurunan prestasi, idealnya Belanda lolos ke Rusia dan menempati peringkat 4 tahun depan. Namun kembali lagi, hidup tidak selalu ideal. Mereka terjun bebas dengan hanya menjadi penonton (yang kemudian ditemani Italia). Kembali berbicara soal tragis, nasib Belanda pun tidak kalah tragisnya. Arjen Robben cs juga melewatkan ajang Euro 2016, dimana negara selevel Islandia yang penduduknya hanya 1/30nya warga Jakarta itu sanggup melangkah hingga perempat final. Praktis de Oranje akan nganggur di turnamen besar setidaknya sampai tahun 2020. Itu dengan syarat mereka lolos ke Piala Eropa, kalau gagal? Yaa mohon bersabar mungkin itu ujian.

Lantas bagaimana dengan tanggapan para pemain Belanda menyikapi kegagalan itu? Sepertinya biasa saja, tidak ada kesedihan yang mendalam seperti yang terlihat di San Siro dini hari tadi. Sebaliknya mereka justru tersadar kalau skuad yang mereka miliki sudah terlalu usang. Rekan-rekan seangkatan Robben jelas sudah tak akan mampu bersaing dengan anak-anak muda negara berkembang (dalam sepakbola) semacam Swedia, Kroasia, Islandia apalagi angkatan muda Jerman. Sudah waktunya Belanda memulai regenerasi agar tidak ketinggalan dengan negara-negara lainnya.

Robben menyalami Van Persie pasca kegagalan Belanda lolos ke piala dunia via Marca

Untuk urusan kegagalan, jelas mental Belanda lebih teruji. Tiga kali tampil di final, dua diantaranya berturut-turut, tidak satupun trofi piala dunia yang diarak keliling di negeri bunga tulip tersebut. Sebagai penemu total football hal tersebut jelas memalukan. Namun apa boleh buat kalau itu merupakan takdir dari yang Maha Kuasa. Setidaknya mereka masih punya Piala Eropa 1988 sebagai bukti kalau mereka pernah merajai Eropa. Jadi ketika kegagalan itu datang mendera, mental mereka lebih kuat daripada negara-negara lainnya macam Jerman, Spanyol, Inggris ataupun Italia.

Mereka bisa dengan gampang mencari alasan seperti kompetisi negaranya kurang kompetitif lah, pelatih yang gonta-ganti lah, regenerasi terlambat sampai menyalahkan tim lawan yang bermain bertahan total yang menjadi momok bagi total football. Sialnya tradisi itu juga menular ke bekas negara jajahannya yakni Indonesia.

Kalau berbicara Indonesia rasanya terlalu jauh jika mengulas perjalanannya di piala dunia. Meski pernah tampil di piala dunia 1938, saat itu Mereka masih membawa nama Hindia Belanda (sebagai koloni dari Belanda) bukan Indonesia. Itu pun di pertandingan pertama langsung menyerah 0-6 dari Hungaria dan membuat Hindia Belanda langsung tersisih dari turnamen.  Kita bicarakan saja tentang prestasi timnasnya.

Dahulu kala kita boleh berbangga mengingat timnas Indonesia cukup disegani di kawasan Asia Tenggara bahkan Asia. Berbagai prestasi terutama di ajang Sea Games dan Asian Games sukses membuat tim Garuda terbang tinggi ke angkasa. Sayangnya sejak 1991, belum ada lagi “trofi mayor” yang diarak keliling kota Jakarta. Tidak usah membicarakan olimpiade, Asian Games ataupun piala dunia, tapi cukup dengan membicarakan Sea Games dan Piala AFF (Piala Tiger).

Di ajang Piala AFF, prestasi tertinggi timnas hanyalah sebagai runner-up. Dan hebatnya prestasi itu ditorehkan sebanyak 5 kali, terbanyak diantara negara-negara Asia Tenggara lainnya. Selai itu yang membuat lebih takjub adalah 3 “gelar” runner-up itu diperoleh secara berturut-turut dari tahun 2000, 2002, dan 2004. Belum pernah ada kesebelasan lain yang merasakan hal seperti itu disebuah turnamen antar negara. Dua runner-up lainnya diperoleh tahun 2010 dan 2016 lalu.

Padahal dari semua hasil yang nyaris itu, seluruh warga Indonesia selalu berdoa dan berharap agar timnas kebanggaannya bisa juara. Belum lagi hampir semua media tanah air menyiarkan kabar kemenangan demi kemenangan timnas dari fase penyisihan ke babak final secara masif dan sistematis. Semua hal yang ada hubungannya dengan timnas mulai dari pemain, pelatih, manajer, keluarga bahkan tetangga si pemain ikut di ekspose. Para pemain pun mendadak jadi selebritis. Entah karena demam panggung atau kualitas lawan yang memang lebih hebat, Indonesia selalu kolaps di partai final. Semua keajaiban dan kehebatan mereka dari babak penyisihan mendadak hilang.

Akhirnya skuad merah putih pun harus bersyukur meskipun sekedar menjadi yang kedua. Di ajang Sea Games juga sama. Terakhir kali emas direbut adalah tahun 1991, atau kurang lebih 26 tahun yang lalu. Sama persis dengan prestasi timnas, skuad Sea Games paling banter juga hanya meraih medali perak. Karena itu jangan heran ketika Evan Dimas cs menjuarai Piala AFF U-19 tahun 2013 lalu, euforia perayaannya seperti juara Piala Dunia saja. Tak lain dan tak bukan adalah karena warga Indonesia sudah terlalu haus dengan prestasi di dunia sepakbola. Meskipun hanya sekedar turnamen junior, piala tetaplah piala yang layak untuk dirayakan.  Setidaknya begitu anggapan mereka.

Indonesia saat jadi runner-up Piala AFF 2016 via okezone.com

Kemudian bagaimana reaksi warga Indonesia dengan kegagalan tersebut? Ah…biasa saja. Mungkin saking terbiasanya dengan kegaalan di partai puncak, masyarakat Indonesia tidak ada yang mengalami kesedihan berlebihan seperti yang ditunjukkan Italia tadi pagi. Paling banter mereka cuma akan bilang, “santai aja bro, kita bales tahun depan”. Sungguh suatu pernyataan yang mencerminkan kalau orang Indonesia itu legowo dan nrimo.

Idealnya suatu kesebelasan yang bermain indah selama turnamen harusnya menjadi juara. Tapi sayangnya kenyataan terkadang tidak selalu ideal. Setidaknya hal itulah yang sering dialami oleh Belanda dan Indonesia.

Jadi jangan menghujat PSSI kalau Indonesia gagal lolos ke Piala Dunia 2022 di Qatar nanti. Pihak PSSI pasti akan beralasan kalau kompetisi di Indonesia masih belum stabil sehingga kualitas pemain juga buruk. Selain itu mereka justru akan membalikkan pernyataan dengan mengatakan bahwa negara besar macam Italia dan Belanda saja bisa absen di piala duna 2018, apalagi Indonesia.

Bagi Italia tentunya saya berharap kalian bisa belajar banyak dari Belanda dan Indoesia tentang persepakbolaan. Bukan belajar tentang bagaimana mengelola sepakbolanya, akan tetap belajar bagaimana menyikapi kekalahan dengan tenang, bijak dan penuh kesabaran. Jadi jangan lebay!!! Baru gagal sedikit saja sudah menangis sesenggukan seperti itu.

 

Comments

comments