Connect with us

Sains

Perbedaan Embun Beku di Bromo-Dieng-Semeru Dengan Hujan Salju

Published

on

Beberapa hari belakangan ini media sosial ramai dengan fenomena embun yang membeku di sejumlah wilayah di Indonesia. Fenomena alam ini terjadi di kawasan pegunungan atau dataran tinggi. Daerah Dieng, Bromo, dan Semeru menjadi daerah yang paling banyak ditemukan embun beku.

Bukan hanya tahun ini saja, peristiwa embun beku sebenarnya juga sudah pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Suhu di beberapa daerah seperti Dieng, Bromo, dan Semeru mencapai minus 0 derajat celcius di malam hari.

Tentu saja kejadian langka tersebut membuat wisatawan yang sedang berkunjung tak mau ketinggalan untuk mengabadikannya dalam jepretan kamera. Akan tetapi muncul pertanyaan, apakah sama fenomena embun beku yang terjadi di Bromo, Dieng, dan Semeru itu dengan fenomena hujan salju?

Jawabannya adalah berbeda!

Embun terbentuk dari pemanasan cahaya matahari di siang hari yang membentuk uap di udara. Pada malam hari, uap-uap di udara itu mencair sehingga membentuk tetesan air yang biasanya menempel pada dedaunan. Di kala suhu mencapai minus 0 derajat celcius, tetesan-tetesan embun tadi akan mengkristal menjadi es. Itulah yang menyebabkan terjadinya fenomena embun beku.

Sedangkan salju terbentuk dari uap air yang terkumpul di awan yang kemudian matang lalu turun sebagai titik-titik air yang membeku berupa salju yang lembut seperti kapas. Biasanya fenomena hujan salju terjadi di kawasan beriklim dingin atau daerah yang memiliki 4 musim dalam satu tahun.

Di Indonesia fenomena salju hanya dapat ditemui di kawasan pegunungan Jaya Wijaya Papua yang berada di ketinggian lebih dari 4000mdpl. Jadi singkatnya, embun beku terjadi ketika tetesan air embun menjadi beku karena dinginnya suhu. Sedangkan salju sudah “dari sononya” membeku.

Fenomena embun beku sendiri diperkirakan masih akan terus berlangsung selama musim kemarau di Indonesia. Jadi untuk kamu yang akan berkunjung ke Bromo, Dieng, ataupun Semeru siapkan jaket yang tebal ya biar tidak ikutan membeku!

Komentar

Sains

Kamu Harus Tahu! Inilah Perbedaan Meteor, Asteroid, dan Komet

Published

on

By

Meteor, asteroid, dan komet adalah nama benda-benda di luar angkasa yang pasti sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Meski tampak hampir sama, tapi benda-benda itu memiliki perbedaan yang cukup mendasar lho.

Dilansir dari The Mercury News, asteroid adalah objek yang lebih besar dibandingkan dengan meteorit yang mengorbit pada matahari. Asteroid terbentuk dari batu ataupun logam. Berdasarkan sejarah ilmu pengetahuan, benda yang lebih besar dari ukuran 10 meter tersebut dinamakan asteroid.

Biasanya dalam asteroid ini terdapat bongkahan batu besar yang dinamakan meteorit. Meteorit ini bisa menghantam planet tanpa melaui proses pembakaran di atmosfer.

Selanjutnya adalah komet. Benda ini merupakan sebongkah benda luar angkasa yang mengandung es, batu, serta serpihan debu. Komet ini memiliki ukuran yang jauh lebih besar daripada asteroid.

Diameternya saja bisa mencapai ukuran beberapa mil. Benda ini juga mengorbit pada matahari. Puing-puing komet adalah sumber dari terbentuknya banyak meteorit dalam jumlah yang besar. Sedangkan meteor merupakan batu luar angkasa yang memasuki atmosfer Bumi dengan mengalami proses penguapan. Benda ini biasa disebut “bintang jatuh”.

Para ahli menyatakan bahwa jikalau benda-benda luar angkasa dalam ukuran yang besar seperti asteroid ini menghantam bumi, maka akan menimbulkan dampak yang cukup signifikan bagi lingkungan sekitarnya. Sejarah mencatat bahwa punahnya kehidupan Dinosaurus di jaman purba dulu juga disebabkan karena ada asteroid yang berukuran besar menghantam bumi.

Tidak menutup kemungkinan juga apabila ada asteroid tersebut jatuh ke laut akan menimbulkan tsunami. Sampai saat ini sudah cukup banyak film-film yang menggambarkan kondisi yang terjadi di muka bumi apabila asteroid tersebut jatuh menembus atmosfer.

 

Komentar
Continue Reading

Sains

Ingin Kerja Ringan Tapi Bergaji 200 Juta per Bulan? Begini Caranya

Published

on

By

Punya pekerjaan mudah dan ringan tapi bergaji besar menjadi impian hampir semua orang di dunia ini. Tapi sangat jarang ada perusahaan ataupun perorangan yang menawarkan pekerjaan mudah tapi bergaji besar. Kalau kamu kebetulan mendapatkan jenis pekerjaan seperti itu, mungkin kamu menjadi salah satu manusia paling beruntung di muka bumi ini.

Meskipun jarang, pekerjaan semacam itu bukan tidak ada sama sekali di dunia ini. Seperti dilansir dari Cnbc, baru-baru ini pihak NASA dan European Space Agensi membuka lowongan kerja untuk mereka yang ingin santai tapi mendapat gaji besar.

Pekerjaan yang ditawarkan cukup mudah, yakni para pekerjanya diwajibkan hanya tidur-tiduran selama 2 bulan. Ingin tahu berapa gajinya? USD 19.000 atau sekitar 266 juta rupiah. Ya, kamu tidak sedang salah baca. 266 juta rupiah untuk pekerjaan tiduran selama 2 bulan.

Pekerjaan ini merupakan bagian dari penelitian bagaimana perubahan yang terjadi dalam tubuh dalam kondisi tak berbobot atau dalam ruangan tanpa gravitasi. Dengan penelitian ini, ilmuwan bisa menciptakan metode yang dapat menangkal dampak dari ‘weightlessness‘.

Walaupun tampak sederhana dan banyak peminatnya, namun diyakini hanya akan ada sedikit orang saja yang memenuhi syarat dan akan bertahan sampai batas waktu yang ditentukan. Syarat dan ketentuan berlaku untuk pekerjaan ini.

Jika kamu ingin mendapatkan pekerjaan itu maka diwajibkan untuk bisa berbahasa Jerman dan berusia antara 24 hingga 55 tahun. Kamu tidak hanya sebatas berbaring di ranjang saja, tapi juga harus makan, ada pembicaraan dan tubuh harus mampu menahan ketika dimiringkan sedikit ke bawah.

Akan ada 15 hari persiapan, 60 hari pelaksanaan, 14 hari istirahat dan rehabilitasi astronot. Hal itu dilakukan agar tubuh para pekerja dapat kembali bugar untuk dapat beraktifitas dalam kehidupan sehari-hari. Selama “bekerja”, para pekerja akan tinggal di satu kamar fasilitas penelitian. Aktifitas makan, mencuci, mandi, pergi ke toilet, dan kegiatan rekreasi akan berlangsung dalam kondisi berbaring.

Komentar
Continue Reading

Sains

Mengapa Sekarang Malam Hari Terasa Lebih Dingin ? Ini Penjelasannya

Published

on

Beberapa minggu terakhir, hawa dingin disertai angin yang cukup kencang menyelimuti daerah yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia termasuk Pulau Jawa. Menurut BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika), penyebab utamanya adalah saat musim kemarau, tutupan awan yang ada cenderung sedikit.

img: cnn indonesia

Awan tersebut berfungsi untuk memantulkan radiasi gelombang panjang yang dihasilkan oleh Matahari. Sejatinya, Matahari dapat melepaskan radiasi berupa energi gelombang pendek, yang kemudian energi itu akan diserap dan dipantulkan kembali oleh Bumi dalam bentuk gelombang panjang.

Nah, ketika terlalu banyak awan di malam hari, energi gelombang panjang yang dipancarkan Bumi pun tidak semuanya dilepas, melainkan dipantulkan kembali ke Bumi. Kondisi ini yang membuat malam hari menjadi gerah.

Dan sebaliknya, ketika jumlah awan sedikit atau bahkan tidak ada, maka radiasi gelombang panjang dari Matahari tidak ada yang dipantulkan kembali ke Bumi. Hal tersebut pun membuat seluruh radiasi gelombang panjang dipancarkan seluruhnya ke atmosfer sehingga cuaca akan terasa lebih dingin.

Selain faktor radiasi gelombang tersebut, faktor lain penyebab udara yang lebih dingin adalah bertiupnya angin Monsoon dari benua Australia. Monsoon Dingin Australia ini diperkirakan berlangsung dari bulan Juni sampai puncak musim kemarau yaitu pada bulan September mendatang.

img: ilmugeografi.com

Oleh karena itu, kondisi ini pun membuat wilayah Indonesia terutama bagian selatan menjadi lebih dingin dibandingkan biasanya. Bahkan angin Monsoon Dingin Australia juga bisa menyebabkan suhu udara musim kemarau di Indonesia menjadi lebih dingin dari musim hujan lho ! Dan bisa saja angin tersebut membawa banyak sekali materi-materi lain seperti kuman penyakit, oleh karena itu kamu harus pandai-pandai menjaga daya tahan tubuh agar kuman-kuman tersebut tak bersemayan di dalam tubuhmu.

Komentar
Continue Reading

Trending