Connect with us

Sains

Mengapa Sekarang Malam Hari Terasa Lebih Dingin ? Ini Penjelasannya

Published

on

Beberapa minggu terakhir, hawa dingin disertai angin yang cukup kencang menyelimuti daerah yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia termasuk Pulau Jawa. Menurut BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika), penyebab utamanya adalah saat musim kemarau, tutupan awan yang ada cenderung sedikit.

img: cnn indonesia

Awan tersebut berfungsi untuk memantulkan radiasi gelombang panjang yang dihasilkan oleh Matahari. Sejatinya, Matahari dapat melepaskan radiasi berupa energi gelombang pendek, yang kemudian energi itu akan diserap dan dipantulkan kembali oleh Bumi dalam bentuk gelombang panjang.

Nah, ketika terlalu banyak awan di malam hari, energi gelombang panjang yang dipancarkan Bumi pun tidak semuanya dilepas, melainkan dipantulkan kembali ke Bumi. Kondisi ini yang membuat malam hari menjadi gerah.

Dan sebaliknya, ketika jumlah awan sedikit atau bahkan tidak ada, maka radiasi gelombang panjang dari Matahari tidak ada yang dipantulkan kembali ke Bumi. Hal tersebut pun membuat seluruh radiasi gelombang panjang dipancarkan seluruhnya ke atmosfer sehingga cuaca akan terasa lebih dingin.

Selain faktor radiasi gelombang tersebut, faktor lain penyebab udara yang lebih dingin adalah bertiupnya angin Monsoon dari benua Australia. Monsoon Dingin Australia ini diperkirakan berlangsung dari bulan Juni sampai puncak musim kemarau yaitu pada bulan September mendatang.

img: ilmugeografi.com

Oleh karena itu, kondisi ini pun membuat wilayah Indonesia terutama bagian selatan menjadi lebih dingin dibandingkan biasanya. Bahkan angin Monsoon Dingin Australia juga bisa menyebabkan suhu udara musim kemarau di Indonesia menjadi lebih dingin dari musim hujan lho ! Dan bisa saja angin tersebut membawa banyak sekali materi-materi lain seperti kuman penyakit, oleh karena itu kamu harus pandai-pandai menjaga daya tahan tubuh agar kuman-kuman tersebut tak bersemayan di dalam tubuhmu.

Komentar
Continue Reading

Sains

Ingin Kerja Ringan Tapi Bergaji 200 Juta per Bulan? Begini Caranya

Published

on

By

Punya pekerjaan mudah dan ringan tapi bergaji besar menjadi impian hampir semua orang di dunia ini. Tapi sangat jarang ada perusahaan ataupun perorangan yang menawarkan pekerjaan mudah tapi bergaji besar. Kalau kamu kebetulan mendapatkan jenis pekerjaan seperti itu, mungkin kamu menjadi salah satu manusia paling beruntung di muka bumi ini.

Meskipun jarang, pekerjaan semacam itu bukan tidak ada sama sekali di dunia ini. Seperti dilansir dari Cnbc, baru-baru ini pihak NASA dan European Space Agensi membuka lowongan kerja untuk mereka yang ingin santai tapi mendapat gaji besar.

Pekerjaan yang ditawarkan cukup mudah, yakni para pekerjanya diwajibkan hanya tidur-tiduran selama 2 bulan. Ingin tahu berapa gajinya? USD 19.000 atau sekitar 266 juta rupiah. Ya, kamu tidak sedang salah baca. 266 juta rupiah untuk pekerjaan tiduran selama 2 bulan.

Pekerjaan ini merupakan bagian dari penelitian bagaimana perubahan yang terjadi dalam tubuh dalam kondisi tak berbobot atau dalam ruangan tanpa gravitasi. Dengan penelitian ini, ilmuwan bisa menciptakan metode yang dapat menangkal dampak dari ‘weightlessness‘.

Walaupun tampak sederhana dan banyak peminatnya, namun diyakini hanya akan ada sedikit orang saja yang memenuhi syarat dan akan bertahan sampai batas waktu yang ditentukan. Syarat dan ketentuan berlaku untuk pekerjaan ini.

Jika kamu ingin mendapatkan pekerjaan itu maka diwajibkan untuk bisa berbahasa Jerman dan berusia antara 24 hingga 55 tahun. Kamu tidak hanya sebatas berbaring di ranjang saja, tapi juga harus makan, ada pembicaraan dan tubuh harus mampu menahan ketika dimiringkan sedikit ke bawah.

Akan ada 15 hari persiapan, 60 hari pelaksanaan, 14 hari istirahat dan rehabilitasi astronot. Hal itu dilakukan agar tubuh para pekerja dapat kembali bugar untuk dapat beraktifitas dalam kehidupan sehari-hari. Selama “bekerja”, para pekerja akan tinggal di satu kamar fasilitas penelitian. Aktifitas makan, mencuci, mandi, pergi ke toilet, dan kegiatan rekreasi akan berlangsung dalam kondisi berbaring.

Komentar
Continue Reading

Sains

Perbedaan Embun Beku di Bromo-Dieng-Semeru Dengan Hujan Salju

Published

on

By

Beberapa hari belakangan ini media sosial ramai dengan fenomena embun yang membeku di sejumlah wilayah di Indonesia. Fenomena alam ini terjadi di kawasan pegunungan atau dataran tinggi. Daerah Dieng, Bromo, dan Semeru menjadi daerah yang paling banyak ditemukan embun beku.

Bukan hanya tahun ini saja, peristiwa embun beku sebenarnya juga sudah pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Suhu di beberapa daerah seperti Dieng, Bromo, dan Semeru mencapai minus 0 derajat celcius di malam hari.

Tentu saja kejadian langka tersebut membuat wisatawan yang sedang berkunjung tak mau ketinggalan untuk mengabadikannya dalam jepretan kamera. Akan tetapi muncul pertanyaan, apakah sama fenomena embun beku yang terjadi di Bromo, Dieng, dan Semeru itu dengan fenomena hujan salju?

Jawabannya adalah berbeda!

Embun terbentuk dari pemanasan cahaya matahari di siang hari yang membentuk uap di udara. Pada malam hari, uap-uap di udara itu mencair sehingga membentuk tetesan air yang biasanya menempel pada dedaunan. Di kala suhu mencapai minus 0 derajat celcius, tetesan-tetesan embun tadi akan mengkristal menjadi es. Itulah yang menyebabkan terjadinya fenomena embun beku.

Sedangkan salju terbentuk dari uap air yang terkumpul di awan yang kemudian matang lalu turun sebagai titik-titik air yang membeku berupa salju yang lembut seperti kapas. Biasanya fenomena hujan salju terjadi di kawasan beriklim dingin atau daerah yang memiliki 4 musim dalam satu tahun.

Di Indonesia fenomena salju hanya dapat ditemui di kawasan pegunungan Jaya Wijaya Papua yang berada di ketinggian lebih dari 4000mdpl. Jadi singkatnya, embun beku terjadi ketika tetesan air embun menjadi beku karena dinginnya suhu. Sedangkan salju sudah “dari sononya” membeku.

Fenomena embun beku sendiri diperkirakan masih akan terus berlangsung selama musim kemarau di Indonesia. Jadi untuk kamu yang akan berkunjung ke Bromo, Dieng, ataupun Semeru siapkan jaket yang tebal ya biar tidak ikutan membeku!

Komentar
Continue Reading

Kesehatan

Waspada Penyakit Cacar Monyet, Berikut Tanda-Tandanya

Published

on

Cacar monyet atau monkeypox merupakan penyakit langka yang disebabkan oleh virus dan ditularkan pada manusia melalui hewan, terutama di kawasan Afrika Tengah dan Barat. Umumnya penularan diakibatkan oleh kontak dengan hewan terinfeksi, seperti monyet, tupai Afrika, kelinci, tikus, atau hewan pengerat lain. Penyakit ini dapat menyebar ke manusia dengan adanya kontak langsung dengan hewan yang terjangkit virus.

Baik monkeypox maupun cacar berasal dari keluarga poxvirus yang disebut orthopoxvirus. Sejak 1970, kasus monkeypox pada manusia telah dilaporkan di 10 negara Afrika. Pada 2017, Nigeria mengalami wabah monkeypox pertama sejak 1978, dengan 172 kasus.

img: www.straitstimes.com

Meskipun monkeypox dan cacar punya gejala sama, monkeypox tidak sama bahayanya dengan cacar: Dalam wabah sebelumnya, tingkat kematian akibat monkeypox antara 1 persen dan 10 persen. Sebaliknya, cacar memiliki tingkat kematian sekitar 30 persen.

Orang yang terinfeksi monkeypox bisa menyebarkan penyakit ke orang lain, sebagian besar lewat percikan ludah yang keluar ketika seseorang batuk, bersin, atau berbicara. Tapi biasanya virus ini tak bisa bertahan lama, kecuali terjadi kontak dalam jangka waktu panjang dengan penderita. Selain itu, penularan juga bisa melalui kontak langsung dengan cairan tubuh atau lesi kulit yang terinfeksi. Juga melalui kontak tidak langsung dengan pakaian yang terkontaminasi.

Adapun Tanda-tanda seorang terjangkit Monkeypox adalah sebagai berikut

  • Sebelum menunjukkan gejalanya, cacar monyet biasanya diawali dengan periode inkubasi selama 6-16 hari.
  • Infeksinya kemudian bisa dibagi menjadi dua periode:
  1. Periode invasi Selama 5 hari sejak gejala dimulai, pasien mengalami demam, sakit kepala intens, pembengkakan nodus limfa atau limfadenopati, nyeri punggung, nyeri otot dan kekurangan energi.
  2. Periode erupsi kulit Periode ini terjadi 1-3 hari setelah demam dimulai.
  • Pada periode inilah, ruam mulai muncul dari area wajah dan menyebar ke seluruh tubuh. Pada 95% kasus, wajah pasien menjadi bagian yang paling banyak mengalami ruam, disusul dengan telapak tangan dan kaki (75% kasus).

    img: channelnewsasia.com

  • Ruam ini bermula dari luka datar di area membran mukosa oral (70% kasus). Selain itu, luka juga bisa terjadi pada area kelamin (30%), kelopak mata (20%) dan kornea atau bola mata.
  • Dalam waktu 10 hari, luka kemudian berevolusi menjadi lepuhan kecil berisi cairan, bintil, dan akhirnya kerak. WHO menulis bahwa untuk menghilangkan kerak ini sepenuhnya, diperlukan setidaknya waktu tiga minggu, meskipun pasien telah menjalani perawatan untuk cacar monyet. Sebelum ruam menghilang, pasien juga biasanya menunjukkan kembali gejala khas cacar monyet, yaitu pembengkakan nodus limfa.

Biasanya penderita monkeypox akan pulih dalam dua hingga empat minggu. Pada beberapa orang, mungkin ada bekas luka akibat ruam.

Untuk pencegahannya, sayangnya belum ada vaksin khusus yang bisa mencegah penyakit Monkeypox. Namun untuk meminimalisir, WHO menghimbau agar menghindari kontak langsung dengan hewan primata dan pengerat. Terlebih lagi kabarnya virus Cacar Monyet sudah sampai Singapore lho !

Komentar
Continue Reading

Trending