Inspirasi, Kisah Nyata

Idul Fitri itu Waktunya Silaturahmi, Bukan Pamer Sana-sini

images: kompas.com

Pada hakikatnya Idul Fitri itu adalah hari dimana kita terlahir kembali sebagai pribadi yang bersih dan suci seperti seorang bayi yang baru dilahirkan. Karena itu sudah menjadi budaya bagi kita untuk saling memaafkan. Bisa dibilang semua kembali dari nol.

Di negara yang kita cintai dan banggakan ini, moment Idul Fitri menjadi tradisi tahunan yang sangat berharga untuk dilewatkan begitu saja. Berbagai persiapan dilakukan untuk menyambut hari besar itu. Mulai dari beli baju baru, belanja bahan-bahan pokok untuk masak, sampai dengan menyusun rencana mudik ke kampung halaman. Ya, mudik adalah salah satu bagian dari tradisi Idul Fitri.

Saat mudik itulah kita akan kembali ke kampung halaman tempat dimana kita dilahirkan dan dibesarkan. Kembali ke kampung halaman setelah satu tahun bertarung di tanah perantauan tentu harus membawa kebanggaan. Tidak jarang hasil kerja keras di perantauan selama satu tahun harus bisa ditunjukkan saat kembali ke kampung halaman.

images: http://pojoksatu.id

Biasanya, tingkat kesuksesan seseorang di perantauan akan diukur saat dia mudik. Kalau kamu merantau di kota lalu mudik masih biasa saja seperti waktu kamu berangkat, maka teman-temanmu di kampung akan menganggapmu belum sukses. Tapi kalau kamu pulang dengan tampilan luar biasa, maka orang akan bilang, “wah udah sukses kamu ya di kota sana”. Kamu pun lantas akan tersenyum tipis dengan sedikit kesombongan.

Tampilan luar biasa itu bisa dilihat dari pakaian, gadget yang dipakai, serta transportasi apa yang digunakan saat mudik. Kalau kamu  pas moment acara keluarga ataupun syawalan kampung saat lebaran nanti datang dengan gamis terbaru dan mahal, lalu tangan memegang i phone x kemudian dengan gagahnya memarkir mobil CR-V keluaran terbaru, maka bisa dipastikan derajat sosialmu akan naik berkali lipat. Fix..kamu dianggap orang sukses.

Lain lagi ceritanya kalau kamu pulang dengan berdesakan di bus umum ataupun berjuang mencari tiket kereta api. Setelah itu di acara keluarga ataupun syawalan kampung kamu masih memakai pakaian yang sama dengan yang kamu kenakan lebaran tahun sebelumnya. Pasti kawan-kawanmu hanya akan menganggapmu tak lebih dari seorang pemudik biasa.

Hal-hal seperti itu yang membuat orang berlomba-lomba bagaimanapun caranya untuk tampil sebaik mungkin saat Idul Fitri nanti. Bukan untuk melengkapi istilah “kembali fitri”, tapi sedikit banyak untuk memamerkan diri. Yang lebih kacau lagi adalah adanya anggapan bahwa Idul Fitri adalah saat yang tepat untuk hura-hura di kampung halaman. Iya sih sah-sah saja, toh itu uang kamu yang cari dengan keringatmu sendiri.

images: http://tabloid-desa.com

Tapi kamu juga mesti ingat, tak semua orang bisa semewah kamu dalam merayakan Idul Fitri. Ada yang buat sekedar beli baju baru saja tidak bisa. Ada lagi yang tak bisa mudik karena tak punya biaya. Bahkan sampai ada juga yang buat bikin opor ayam sama ketupat saja tak mampu.

Kamu harus bisa menyesuaikan diri dengan acara yang akan kamu datangi saat Idul Fitri nanti. Misalnya saja di acara keluarga. Seandainya saja sebagian keluargamu tergolong orang yang kurang mampu, ada baiknya buat kamu untuk tidak terlalu menonjolkan harta yang kamu miliki. Begitu juga di acara halal bil halal kampung. Kamu tidak perlu menonjolkan harta yang kamu miliki. Toh kamu bisa hadir saja kebahagiaan mereka sudah terasa lengkap.

Moment Idul Fitri lebih baik kamu gunakan untuk silaturahmi, daripada sekedar pamer sana-sini. Gunakan waktu tersebut untuk saling bercerita, melepas rindu dan berbagi pengalaman dengan teman ataupun sanak famili yang jarang kamu temui.

images: kompasiana.com

Kalau kamu benar-benar memiliki harta lebih, membagikan angpau terlihat lebih berfaedah daripada sekedar menunjukkan gadget keren atau tas branded. Percayalah, angpau adalah penyempurna ajang silaturahmi antara mereka yang telah sukses dan yang masih diambang kesuksesan.

Comments

comments