Bola, Olahraga

Ronaldo dan Usaha Memeriahkan (lagi) Liga Italia

images: fourfourtwo.com

Medio 90an sampai awal 2000an menjadi masa-masa keemasan bagi sepakbola Italia. Saat itu Liga Italia menjadi magnet bagi banyak pesepakbola terkenal. Mulai dari era trio Belanda (Guilit, Rijkaard, dan Van Basten), Maradona, Ronaldo (Brasil), Zenedine Zidane, Shevchenko, Batistuta sampai era Ricardo Kaka. Mereka semua datang ke tanah Italia tentunya bukan karena ingin belajar membuat pizza, tapi karena ingin menjadi seorang pesepakbola terkenal.

Dengan kekuatan uang para pemilik klub, pemain-pemain bintang pun berdatangan ke Serie A. Apa yang kamu lihat di Liga Inggris saat ini adalah gambaran Liga Italia tempoe doeloe. Sangat menarik dan penuh intrik. Setelah kejatuhan Napoli dan Sampdoria di pertengahan 90an, Liga Italia praktis dikuasai 7 kesebelasan yang setiap musimnya bersaing ketat untuk berebut gelar juara.

Klub-klub itu adalah AC Milan, Inter Milan, Lazio, AS Roma, Juventus, Parma dan Fiorentina. Mereka kemudian disebut sebagai the magnificen sevent. Saat itu tim-tim dari Liga Italia juga sangat mendominasi Eropa. AC Milan dan Juventus cukup berjaya di Liga Champions sementara itu di Piala UEFA dan Piala Winners (sekarang Liga Eropa) ada Parma, Fiorentina dan Lazio.

images: fourfourtwo.com

Namun petaka calciopoli yang menyeret Juventus serta AC Milan perlahan tapi pasti mulai mengurangi daya tarik Liga Italia. Hal itu diperparah dengan kebangkrutan yang melanda Fiorentina, Parma dan kesulitan ekonomi yang dihadapi duo kota Roma. Praktis setelah itu hanya Inter Milan yang sanggup bertahan.

Liga Italia pun berangsur kehilangan popularitasnya. Sebaliknya Liga Spanyol, Liga Jerman dan Liga Inggris justru semakin populer. Hadirnya Lionel Messi lalu disusul kedatangan Cristiano Ronaldo membuat La Liga menjadi semakin menarik. Begitu juga dengan gaya main tiki-taka Barcelona yang diperkenalkan Guardiola seakan membuat seluruh dunia tersihir.

Profesionalnya pengelolaan Liga Jerman juga membuat kompetisinya menarik untuk disaksikan. Apalagi saat itu dominasi Bayern tengah diganggu oleh Dortmund, Werder Bremen dan Schalke 04. Persaingan ketat berlangsung sampai akhir musim.

images: kumpar.com

Para investor pun berdatangan ke tanah Inggris. Dominasi MU dan Arsenal dirusak oleh kekuatan finansial Roman Abramovich yang membeli Chelsea. Beberapa tahun kemudian giliran Man. City yang punya banyak uang karena dibeli oleh Sheikh Mansour. Pemain bintang pun berdatangan ke Liga Inggris. Belakangan ini persaingan semakin ramai karena Liverpool dan Tottenham Hotspur juga ikut meramaikan perburuan pemain bintang dengan dana besar.

Lantas Liga Italia? Tampaknya masih tertidur panjang. Tidak ada perubahan yang signifikan di Serie A. Stadion yang sepi, laga derby yang adem ayem, sampai jam tayang dini hari yang membuat orang malas bangun. Padahal Liga Inggris dan La Liga mau memajukan jam tayang untuk mengejar pasar sepakbola Asia yang konon katanya merupakan pasar terbaik untuk sepakbola Eropa.

Namun di pertengahan tahun 2018 ini Juventus membuat sebuah gebrakan besar dengan mendatangkan seorang Crstiano Ronaldo. Dengan mahar 100 juta euro yang dicicil 2 kali pembayaran (ciyeee utang ciyeee), juara 6 musim beruntun Liga Italia itu berhasil mendatangkan kapten timnas Portugal tesebut.

images:http://storage0.dms.mpinteractiv.ro

Jelas Liga Champions adalah bidikan si nyonya tua untuk musim depan, karena itulah mereka mendatangkan Ronaldo. Kalau gelar Liga Italia ataupun Coppa Italia sih mungkin hampir pasti. Bukannya meremehkan, hanya saja mereka sudah terlalu biasa kalau hanya mendapat gelar yang itu-itu saja.

Tentu banyak penggemar Liga Italia yang berharap bahwa kedatangan Ronaldo ini akan menarik para bintang lainnya untuk menjajal rumput di negara yang gagal lolos ke Rusia ini. Yah semoga saja AC Milan langsung mendatangkan Leonel Messi, Inter Milan mendatangkan Hazard, Roma memulangkan Salah dan Napoli memboyong Neymar. Kalau sudah begitu, banyak orang akan rela begadang tiap akhir pekan untuk melihat pemain idolanya berlaga.

Ahh…rasanya sudah terlalu larut. Lebih baik tulisan ini saya akhiri daripada semakin melantur kesana-sini. Semoga Liga Italia kembali meriah (lagi)…

Comments

comments