Connect with us

Bola

Piala Dunia 2034 : Membuka Asa Indonesia ke Piala Dunia

Published

on

Sekjen PSSI Ratu Tisha di acara AFF 12th Council Meeting Session AFF di Nusa Dua Bali, Sabtu 23/09/2017 via www.football5star.com

 

Piala Dunia 2034 memang masih 17 tahun lagi. Sedangkan Piala Dunia 2018 di Rusia  yang akan diselenggarakan tahun depan saja masih dalam fase kualifikasi. Baru enam negara saja yang memastikan lolos ke Rusia tahun depan.  Mereka adalah Rusia, Brasil,Iran, Jepang, Meksiko dan Rusia. Masih ada 26 tiket tersisa.

Sayangnya Indonesia sama sekali tidak punya kesempatan untuk memperebutkan satu dari sisa 26 slot yang tersedia. Konflik internal di dalam tubu PSSI yang berujung pada pembekuan yang dilakukan pemerintah membuat FIFA memberikan sanksi kepada Indonesia. Akibatnya skuat Garuda tidak bisa ikut kualifikasi Piala Dunia 2018 yang sekaligus mengubur harapan untuk berlaga di ajang bergengsi empat  tahunan tersebut.

Dalam sejarahnya, Indonesia memang pernah tampil di ajang Piala Dunia. Tepatnya di tahun1938. Cuma saat itu skuat merah putih masih berada di bawah naungan pemerintah kolonial, sehingga nama negara yang dibawa pun masih dalam wujud Hindia Belanda. Di pertandingan pertama, skuat Hindia Belanda harus takluk dari Hongaria dengan skor 6-0. Karena saat itu Piala Dunia menggunakan sistem gugur, praktis berakhir sudah keikut sertaan Hindia Belanda di gelaran Piala Dunia.

Selepas merdeka, FIFA memutuskan bahwa Indonesia adalah kelanjutan dari Hindia Belanda. Sepakbola pun menjadi ajang kampanye presiden pertama Indonesia, Soekarno untuk menunjukkan ke dunia bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar. Di ahun 1954 Indonesia melenggang hingga semfinal Asian Games. Dua tahun kemudian, di ajang Olimpiade Melbourne, timnas sukses menahan imbang Uni Sovyet  yang diperkuat kiper legendarisnya  Lev Yashin dengan skor 0-0. Meski akhirnya menyerah 4-0 di pertandingan ulang, setidaknya menahan negara besar seperti Uni Sovyet menjadi kebangaan tersendiri sampai saat ini.

Tahun 1958, menjadi  pencapaian tertinggi anak asuh pelatih legendaris Toni Pogagnic tersebut. Timnas berhasil merebut perunggu di ajang Asian Games. Setelah itu, prestasi tertinggi yang diraih hanyalah menembus semifinal Asian Games 1986.

Lantas bagaimana dengan Piala Asia? Indonesia baru ikut dalam 4 penyelenggaraan, tahun 1996,2000, 2004, dan 2007. Prestasi tertingginya hanyalah tampil di babak penyisihan grup. Kalaupun ada kebanggaan di ajang Piala Asia, tentu saja itu adalah gol salto Widodo C. Putro di Piala Asia 1996 yang dinobatkan sebagai gol terbaik saat itu.

Beratnya merajai Asia Tenggara

Terlalu jauh kalau berbicara di level Asia. Di level regional Asia Tenggara saja kita masih kesulitan. Di ajang Sea Games, terakhir kali timnas meraih emas adalah pada tahun 1991. Sedangkan di ajang Piala AFF, rekor 5 kali runner up menasbihkan Indonesia menjadi juara tanpa mahkota. Sebuah pelipur lara bagi tim yang selalu nyaris juara.

Konflik internal di tubuh PSSI, carut marutnya kompetisi serta sarana dan prasarana sepakbola yang kurang memadahi ditenggarai menjadi penyebab sulitnya timnas berprestasi. Pembinaan usia muda yang tidak jelas juga membuat proses regenerasi di tubuh timnas terhambat.

Juara Piala AFF U-19 pada tahun 2013 yang kembali memberikan harapan via http://1.bp.blogspot.com

Asa sempat mucul ketika Evan Dimas dkk menjadi juara AFF U-19 pada tahun 2013 lalu serta lolos ke Piala Asia U-20.  Sayangnya, PSSI keburu kena sanksi dari FIFA sehingga pembinaan skuat yang mungkin saja menjadi generasi emas tersebut terhenti. Padahal,negara-negara tetangga seperti Thailand, Vietnam, dan Myanmar sangat serius dalam pembinaan pemain mudanya. Khusus untuk Thailand, kesuksesan mereka menjuarai Piala AFF  tahun lalu, meraih emas Sea Games di Malaysia dan Juara Piala AFF U-18 di Myanmar merupakan bukti bahwa pembinaan yang mereka lakukan selama ini telah membawa hasil.

Dan tampaknya, level mereka bukan lagi sebatas Asia Tenggara. Tapi sudah mulai menatap Asia bahkan Piala Dunia.

Bersama Thailand menatap Piala Dunia

Di acara 12th Council Meeting Session AFF di Nusa Dua Bali, Sabtu 23/09/2017 Sekjen AFF Sri Dato Azzudin menyatakan bahwa negara-negara ASEAN mendukung Indonesia untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034. Namun dalam pengajuan itu Indonesia tidaklah sendiri. Indonesia akan maju bersama Thailand untuk menjadi tuan rumah bersama seperti Korea Selatan-Jepang di tahun 2002 lalu.

Kalau disetujui FIFA, maka ini seperti menjadi jalan pintas bagi Indonesia dan Thailand untuk tampil di ajang Sepakbola terbesar itu. Jatah sebagai tuan rumah akan memberikan tiket otomatis bagi skuat Garuda untuk tampil di putaran final. Peluang Asia Tenggara menjadi tuan rumah cukup terbuka. Pasalnya saat ini Asia tenggara adalah pasar yang baik bagi sepakbola. Terbukti seringnya klub-klub Eropa beruji coba di kawasan Asia Tenggara di setiap awal musim.

Selain itu fanatisme para supporter juga tinggi. Jelas hal itu akan menadi pertimbangan tersendiri bagi FIFA. Kalau masalah sarana dan prasarana, waktu 17 tahun adalah waktu yang cukup untuk menyiapkan semuanya. Terlebih stadion-stadion di Indonesia sudah banyak yang berkapasitas besar dan memiliki standar Internasional FIFA. Tinggal poles sedikit lagi dan setelah itu siap pakai.

Namun yang tak kalah pentingnya, tentu saja menyiapkan timnas itu sendiri seandainya nanti berlaga di Piala Dunia 2034. Tentu kita tidak ingin hanya sekedar melihat skuat Garuda numpang lewat saja dan menyia-nyiakan kesempatan emas berlaga di ajang bergengsi tersebut. Konsistensi serta keseriusan PSSI dalam mengelola kompetisi serta pembinaan usia dini adalah kuncinya.

Satu yang perlu diingat, skuat Jerman yang Juara Piala Dunia 2014 dan juara Piala Konfederasi 2017 lalu itu adalah mereka yang telah dibentuk sejak usia dini pasca kegagalan der panzer di Euro 2000. Federasi sepakbola  Jerman paham, bahwa butuh keseriusan dan pembinaan yang  jelas untuk membuat timnas yang berkualitas. Hasilnya ? tentu kita sudah melihatnya. Benih yang mereka tanam di awal milenium baru itu telah mulai di panen di Piala Dunia Brasil 2014.

Semoga saja, kita tidak pernah kehilangan harapan untuk menyaksikan timnas Indonesia menjadi juara, apapun itu ajangnya. Begitu juga untuk Piala Dunia, semoga kita tidak pernah putus asa untuk berharap mendengar lagu Indonesia Raya berkumandang di ajang pesta sepakbola dunia itu.

 

Komentar

Bola

Inilah 10 Stadion yang Akan Digunakan Dalam Ajang Piala Dunia U20 Tahun 2021

Published

on

Kabar baik hari ini datang dari FIFA Council Meeting yang berlangsung di Shanghai, Tiongkok, bahwa Indonesia terpilih menjadi tuan rumah kejuaraan sepak bola Piala Dunia U20 tahun 2021 mendatang. Keputusan tersebut setelah FIFA melakukan general meeting di Shanghai, China, pada Kamis (24/10).

Indonesia berhasil menyisihkan Brasil dan Peru yang juga mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20. Presentasi penentuan tuan rumah untuk menentukan tuan rumah tersebut dihadiri oleh Sekjen PSSI, Ratu Tisha. Presentasi yang dilakukan oleh Tisha menuai pujian dari FIFA hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 2021.⠀

Menyambut ajang besar ini, Indonesia menyiapkan sepuluh stadion sepak bola: Gelora Bung Karno (Jakarta), Pakansari (Bogor), Manahan (Solo), I Wayan Dipta (Bali), Mandala Krida (Yogyakarta), Jakabaring (Palembang), Wibawa Mukti (Cikarang), Patriot (Bekasi), Jalak Harupat (Bandung) dan Gelora Bung Tomo (Surabaya). Berikut selengkapnya

  1. Stadion Gelora Bung Karno (Jakarta)

    img: kompas.com

  2. Stadion Pakansari (Bogor)

    img: tirto.id

  3. Stadion Manahan (Solo)

    img: joss.co.id

  4. Stadion I Wayan Dipta (Bali)

    img: baliutd.com

  5. Stadion Mandala Krida (Yogyakarta)

    img: genpi.com

  6. Stadion Jakabaring (Palembang)

    img: bolaskor.com

  7. Stadion Wibawa Mukti (Cikarang)

    img: beritasatu.com

  8. Stadion Patriot (Bekasi)

    img: kumparan.com

  9. Stadion Jalak Harupat (Bandung)

    img: pinterest.com

  10. Stadion Gelora Bung Tomo (Surabaya)

    img: news.detik.com

Komentar
Continue Reading

Bola

Sejarah Indonesia di Piala Dunia U-20 Tahun 1979

Published

on

By

Bagaikan ketiban durian runtuh, mungkin itulah peribahasa yang cocok untuk menggambarkan kondisi Timnas U-20 Indonesia tahun 1978 yang mendapatkan jatah satu tiket untuk berlaga di Piala Dunia U-20. Alasan politis menjadi penyebab utama Bambang Nurdiyansyah cs melaju ke putaran final.

Pada tahun itu, Asia mendapat 3 jatah untuk bermain di putaran final. Satu tiket secara otomatis menjadi milik Jepang yang menjadi tuan rumah. Sedangkan 2 tiket lain diperuntukkan untuk juara dan runner up Piala Asia U-20 yang digelar tahun 1978. Korea Selatan (korsel) tampil sebagai juara dan Irak di peringkat kedua.

Indonesia sendiri sudah tersingkir sejak babak perempat final. Namun dewi fortuna sedang menaungi skuat Garuda Muda saat itu. Irak yang menjadi runner up memutuskan menolak tampil karena Coca-cola menjadi sponsor resmi turnamen Piala Dunia U-20. Saat itu negara-negara Timur Tengah sedang memusuhi Amerika Serikat, negara tempat Coca-cola bernaung.

Jatah lantas diberikan kepada Korea Utara di peringkat 3, namun mereka juga menolak karena alasan yang sama. Sedangkan negara-negara perempat finalis yang lain juga menolak tampil karena alasan serupa. Jadilah Indonesia yang berangkat ke putaran final.

Hasil undian menempatkan Indonesia di Grup B bersama Argentina, Polandia, dan Yugoslavia. Tergabung dalam grup neraka, tim asuhan Sutjipto Suntoro tersebut langsung bersua tim favorit juara, Argentina, yang diperkuat calon legendanya, Diego Armando Maradona.

Menghadapi Argentina di Stadion Omiya, 26 Agustus 1979, Indonesia kalah telak 0-5. Kelima gol tercipta pada paruh pertama. Dua gol diborong Maradona. Sementara hat-trick Ramon Diaz melengkapi pesta Argentina. Di laga kedua, giliran Polandia yang pesta gol ke gawang Indonesia. Skuat Garuda Muda kalah 6 gol tanpa balas.

Laga pamungkas melawan Yugoslavia pun tak jauh berbeda dengan dua laga sebelumnya. Indonesia menyerah 5 gol tanpa balas. Total 16 gol bersarang di gawang Indonesia dan tidak berhasil mencetak satu golpun ke gawang lawannya. Sejak saat itu, Indonesia belum pernah lagi lolos ke putaran final Piala Dunia U-20.

Kesempatan bagus datang ketika Indonesia berhasil memenangkan bidding untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 tahun 2021 mendatang. Itu berarti secara otomatis skuat Garuda Muda akan lolos ke putaran final. Semoga saja memori buruk 40 tahun yang lalu tidak terulang lagi saat kita menjadi tuan rumah.

Komentar
Continue Reading

Bola

5 Pemain Sepak Bola Berikut Jajal Peruntungan Jadi Youtuber

Published

on

Pekerjaan sebagai youtuber atau content creator kini tak dapat dipandang sebelah mata, karena mereka bisa mendapatkan pundi-pundi rupiah yang tak sedikit dari konten-konten didalamnya . Terlebih jika jumlah viewer dan subscriber yang menembus angka jutaan atau bahkan puluhan juta, maka bisa dipastikan kamu sudah menjadi jutawan dadakan!

Di Indonesia sendiri, menjajal kemampuan sebagai seorang youtuber kini tak hanya digandrungi para selebriti saja melainkan juga para pemain sepak bola lho. Lantas, siapa saja mereka ? berikut selengkpnya

  1. Atep Ahmad Rizal.

    img: www.youtube.com

    Mantan gelandang Persib, Atep Ahmad Rizal mulai jajal kemampuannya menjadi seorang youtuber sejak dua tahun silam. Melalui channelnya yang diberi nama Atep TV, pemain yang kini membela Mitra Kukar tersebut kerap membagikan kegiatan kesehariannya baik tentang sepakbola atau kesibukan yang lain.Karena termasuk konsisten dalam mengunggah konten, channel Atep TV kini sudah berhasil meraih sebanyak lebih dari 75 ribu subscriber.

  2. Hamka Hamzah.

    img: www.youtube.com

     Kapten klub bola Arema FC, Hamka Hamzah pun tengah menikmati profesi barunya sebagai youtuber. Lewat channel youtube-nya yang diberi nama Hamka Story 23, Hamka kerap berbagi pengalaman dan kesehariannya sebagai pemain bola termasuk kebiasaannya sebelum bertanding.Hingga saat ini channel Hamka Story 23 telah memiliki hampir 100 ribu subscribers dari puluhan video yang telah dia unggah.

  3. Kurnia Meiga.

    img: www.youtube.com

    Tak mau kalah dengan senior-seniornya, kiper timnas inipun juga menjajal peruntungan menjadi seorang youtuber sejak 2017 silam. Meskipun terbilang baru, pemain klub Arema ini sudah memiliki lebih dari 36 ribu subscribers dari 8 video yang diunggahnya.Lewat channel miliknya itu, Kurnia Meiga sering membagikan vlog mengenai kehidupan pribadi serta kesehariannya sebagai pemain sepakbola.

  4. Rio Ferdinand.

    img: www.youtube.com

    Tak hanya dari dalam negeri, pemain Internasional sekelas Rio Ferdinand pun juga turut meramaikan jagad per-YouTube-an bahkan sejak 2009 silam, maka tak heran jika Rio sudah memiliki hampir 600ribu subscriber.Sesuai dengan profesinya, channel yang diberi nama Rio Ferdinand Presents FIVE ini sering mengunggah konten video seputar dunia sepak bola.

Itulah empat pemain sepak bola yang mempunyai YouTube Channel pribadi, jangan lupa like, subscribe, dan comment ya ! hehe

 

Komentar
Continue Reading

Trending