Connect with us

Parenting

Tips Mencegah Speech Delay pada Anak

Published

on

Speech Delay merupakan gangguan keterlambatan bicara pada anak yang kurang mendapat stimulasi untuk berbicara. Menurut dr. I.G. Ayu Partiwi Surjadi, Sp.A, MARS atau yang akrab disapa dr. Tiwi, pada 3 tahun pertama kehidupan, otak adalah organ yang sangat pesat tumbuh kembangnya. Nah, di periode ini dapat dimanfaatkan untuk melakukan stimulasi, seandainya anak mengalami gangguan tumbuh kembang. Itu sebabnya, deteksi dini sangatlah penting lho !

Dan speech delay sebetulnya bisa dideteksi lewat tabel perkembangan bahasa berikut

www.paud.id

Jika dilihat dari bagan perkembangan bicara anak, usia 1 hingga 6 bulan memang belum bisa bicara. Namun mereka akan merespons perkataan orang tua, atau yang biasa disebut sebagai fase cooing.

Setelah lebih besar, anak biasanya sudah bisa menggumam meskipun belum terlalu jelas. Fase imitasi terjadi pada usia 10-11 bulan, di mana anak sudah bisa mengucapkan “Ma-ma” atau “Da-da” meskipun belum mengetahui maknanya.

Perkembangan anak berlanjut hingga usia 24 bulan. Jumlah kosakata yang diketahuinya pun bertambah mulai dari 10 kata pada usia 16 bulan dan lebih dari 50 di usia 24 bulan. Pada fase ini, anak-anak juga sudah bisa mengerti perkataan dari orang lain.

www.drhc.ae

Nah di atas 2 tahun, anak sudah bisa mengingat nama, menyusun kalimat pendek dan mampu mengingat lebih dari 400 kata. Jika hingga usia 2,5 tahun anak ternyata masih belum seperti ini, bisa jadi anak mengalami speech delay.

Dalam banyak kasus, kuncinya ada pada stimulasi perkembangan yang baik dan ketepatan waktu dalam menemukan tanda awal penyimpangan perkembangan anak. Dan berikut beberapa tips mencegah Speech Delay pada anak

  1. Stimulasi perkembangan bahasa dan bicara sejak dini. Contohnya mengajak bayi bercakap-cakap, dibacakan buku dengan suara jelas (tidak dicadel-cadelkan), memberi respon ocehan bayi dengan kata-kata sederhana, menjawab pertanyaan, atau bernyanyi. Ingat, gadget bukan solusi ya Mom !
  2. Lakukan pemeriksaan deteksi dini  gangguan perkembangan secara berkala di fasilitas kesehatan.

    img: //http: m4t.blogspot.com

    Pemeriksaan ini bahkan bisa dilakukan ketika usia bayi dibawah satu bulan.

  3. Selalu pantau tahap perkembangan normal pada anak dengan melihat buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Di dalam buku tersebut memuat data kelahiran, berat badan, dan rekam data imunisasi. Buku KIA akan diberikan sejak bayi masih dalam kandungan. Atau yang lebih praktis lagi dengan menggunakan aplikasi tumbuh kembang anak yang tersedia di play store.
Komentar
Continue Reading

Parenting

Berbagai Kegiatan Seru Untuk Mengisi Liburan Dirumah Bersama Si Kecil

Published

on

Saat orang tua ada waktu libur, tentunya ingin menjadikan hari libur tersebut menyenangkan untuk si kecil. Namun terkadang karena satu dan lain hal, orang tua tidak dapat mengajaknya jalan-jalan. Hmm, kalau sudah begini ujung-ujungnya pasti cuma bermalas-malasan di rumah. Dan siapa bilang kalau liburan dirumah itu tidak menyenangkan ? Selain murah, orang tua tentu akan merasakan kedekatan yang lebih terhadap si kecil. Nah, berikut beberapa ide kegiatan seru untuk mengisi liburan di rumah bersama si kecil

  1. Playdate

    img: longfordchildcare.ie

    Mengundang teman-temannya bermain dirumah bisa jadi ide yang menyenangkan dan kegiatan yang asyik untuk anak. Mainan yang selama ini di simpan bisa dikeluarkan agar kegiatan semakin seru, atau orang tua bisa juga membacakan dongeng untuk anak berserta teman-temannya tersebut.

  2. Kegiatan Prakarya

    img: parenting.co.id

    Kegiatan seru lain adalah bermain seni dan prakarya dirumah. Bisa dengan melukis, membuat sesuatu dengan barang bekas, dll. Ini bisa melatih kemampuan motorik halus dan kreativitasnya lho !

  3. Belajar Masak

    www.tramshedssydney.com.au

    Memasak bersama si kecil juga bisa dijadikan ide brilian. Karena selain seru, memasak juga bisa melatih kemandirian anak dan membiasakan pola hidup sehat.

  4. Movie Marathon

    img: dailymail.co.uk

    Terkadang ada beberapa orang tua yang membatasi anaknya menonton TV atau bermain HP karena terlalu membuat kecanduan dan juga tak baik untuk penglihatannya. Namun untuk sesekali, biarkan anak menonton berbagai film yang tentunya sudah diseleksi orang tua.

Walaupun hanya liburan di rumah, namun yang terpenting adalah quality time nya kan !

Komentar
Continue Reading

Parenting

Mengenal Berbagai Macam Gendongan, Mamah Muda Wajib Tahu Nih!

Published

on

Dulu, aktivitas menggendong bayi yang paling populer adalah menggunakan kain jarik. Namun sekarang millennial parents disediakan berbagai jenis pilihan gendongan yang semakin variatif. Dan tidak sedikit dari kita yang bingung memilih gendongan yang paling pas dan nyaman.

Secara umum ada lima jenis gendongan bayi dan masing-masing punya kekurangan dan kelebihan.. Nah, biar kamu mendapat pencerahan, berikut beberapa jenis gendongan bayi berdasarkan penjelasan Maria Golda seorang baby-wearing consultant

  1. Jarik Plus: Jarik bisa dipakai dari bayi baru lahir sampai bayi berusia kurang lebih 2 tahun. Jarik termasuk salah satu gendongan yang everlasting, awet, dan bahan katunnya membuat bayi merasa nyaman. Minus: Kamu mesti mengikatnya dengan simpul jangkar atau simpul mati. Kebanyakan jarik dipakai untuk posisi menggendeong disamping (hip carry) sehingga tumpuannya hanya di salah satu bahu. Akibatnya, penggendong akan merasa pegal.
  2. Ring Sling

    img: blibli.com

    Plus: Ring Sling mirip seperti jarik, namun ada tambahan fitur ring (cincin) dari alumunium atau besi. Penggendong bisa lebih mudah mengatur longgar dan ketatnya gendongan. Minus: Penggendong mesti memastikan ring yang dipakai solid alias tidak bercelah. Ring yang bercelah akan menimbulkan akan menimbulkan resiko saat menggendong.

  3. Pouch

    img: tokopedia.com

    Plus: Jenis gendongan ini berbentuk tubular, sehingga simpel buat dipakai. Penggendong tinggal menyilangkan pouch dari pundak ke sisi samping tubuh, lalu posisikan bayi didalamnya. Minus: Banyak ahli tidak menyarankan pouch karena jika pemakaiannya tidak benar, dapat membuat bayi sulit bernapas. Pemilihan pouch juga mesti disesuaikan dengan berat tubuh penggendong, selain itu juga mudah membuat bahu terasa pegal.

  4. Meh Dai

    img: the fluffy mama

     Plus: Meh Dai adalah modifikasi baby-wearing tradisional dari China. Gendongan ini dilengkapi body panel dan tambahan tali untuk diikatkan ke tubuh penggendong. Penggunaan meh dai membuat beban gendongan terbagi kedua bahu, pinggang, serta punggung. Minus: Pemakaiannya agak ribet karena terdapat beberapa tali yang mesti diikatkan ke tubuh penggendong

  5. Soft Structured Carrier (SSC)

    img: ergo baby carrier

     Plus: SSC dilengkapi body panel, sehingga kamu tinggal meng-klik body panel tanpa harus mengikat-ikat seperti gendongan tradisional. Beban gendongan juga terbagi ke kedua bahu, pinggang, dan punggung sehingga penggendong akan lebih nyaman. Gendongan ini juga cocok untuk para ayah yang pengen menggendong si kecil tanpa harus ribet. Minus: Sebagian SSC belum mendukung posisi kaki bayi yang benar (posisi M shape) sehingga butuh fitur tambahan seperti insert. SSC sebaiknya digunakan ketika bayi sudah mempunyai kontrol otot leher yang kuat dan bisa diposisikan duduk.

Nah bagaimana, yang masih bingung mau beli gendongan udah mendapat pencerahan belum ? Menurut kamu lebih nyaman pakai gendongan yang mana?

Komentar
Continue Reading

Parenting

4 Akibat Jika Anak Sering Dibentak, Orang Tua Wajib Tahu Nih!

Published

on

Membentak anak mungkin suatu kejadian yang terlihat biasa saja. Namun tahukah kamu jika membentak anak, apalagi anak balita (bawah lima tahun) akan menimbulkan efek yang tidak baik pada perkembangannya?

Menurut Dr. Ming-Te Wang (profesor bidang psikologi pendidikan, di Univesity of Pittsburgh, Pennsylvania, AS), efek buruk dari membentak anak adalah ia bisa meniru orang tua dan akan berteriak sesuka hati baik kepada orang tua maupun orang-orang di sekitarnya. Tentunya kita sering bukan menjumpai anak-anak yang suka memberontak? Bisa jadi lho, itu karena dia sering dibentak-bentak oleh orang tuanya.

Untuk itu sebaiknya orang tua menghindari membentak meskipun sedang marah. Jika anak mulai berulah, posisikan diri setinggi anak kemudian lihat matanya. Bicarakan baik-baik pada anak kalau sikapnya tidak baik dan harus diperbaiki. Ajarkan bagaimana seharusnya ia bersikap.

Cara ini lebih mengena pada anak dibandingkan orang tua membentak untuk memperingatkannya. Karena, ternyata membentak anak efeknya sangatlah berbahaya di kemudian hari. Berikut selengkapnya

  1. Minder

    img: young entrepreneurs

    Terus menerus dibentak, apalagi disertai memberi label negatif pada anak akan membuatnya jadi tidak percaya diri. Ia akan menganggap dirinya sebagai anak yang tidak berharga.

  2. Agresif

    img: nikita.grid.id

    Balita yang kerap dimarahi akan cenderung melakukan perilaku agresif dan memberontak. Saat lebih besar, ia tidak segan berperilaku kasar pada anak lainnya, misalnya mendorong, menggigit, bahkan memukul. Karena anak tentunya akan meniru apa yang ia dapatkan di masa lampau.

  3. Ketakutan

    img: superbook

    Sering dibentak akan membuat balita merasa ketakutan. Ketika muncul rasa takut, produksi hormon kortisol diotak meningkat. Pada anak-anak, tingginya hormon kortisol akan memutuskan sambungan neuron atau sel-sel di otak. Selain itu akan terjadi percepatan kematian neuron atau apoptosis. Akibatnya, proses berpikir anak menjadi terganggu, anak tidk bisa menerima informasi dengan baik, tidak bisa membuat perencanaan, hingga sulit mengambil keputusan.

  4. Sulit Konsentrasi

    img: klikdokter

    Efek dari selalu dibentak juga dapat membuat anak mengalami gangguan konsentrasi dan menghambat kemampuannya dalam emmecahkan masalah

Komentar
Continue Reading

Trending