Connect with us

Bola

Piala Dunia Tanpa Belanda itu Hal Biasa, Tapi Kalau Tanpa Argentina???

Published

on

images : tribunnews.com

Fase kualifikasi Piala Dunia 2018 mulai memasuki tahap akhir. Sebanyak 15 negara sudah memastikan diri lolos ke Rusia 2018. Dari zona Eropa ada Rusia, Inggris, Jerman, Belgia,Polandia dan Spanyol. Dari zona Asia nama-nama besar seperti Arab Saudi, Iran, Jepang dan Korea Selatan juga sudah memastikan tempatnya.

Sementara itu dari zona Afrika ada Mesir dan Nigeria. Kosta Rika dan Meksiko di zona Concacaf  juga sudah memastikan tempatnya. Sedangkan zona Conmebol baru Brasil saja yang memastikan lolos.

Di zona Eropa, beberapa negara besar masih akan berjuang di pertandingan terakhir babak kualifikasi. Mereka adalah Belanda, Portugal, Italia, dan Swedia. Khusus Belanda dan Swedia keduanya akan saling bertemu untuk memperebutkan tiket ke Rusia melalui jalur play-off.

Di zona Conmebol pertandingan terakhir fase kualifikasi jauh lebih sengit. Sebab selisih poin antara peringkat 2 dan peringkat 7 hanya berselisih 4 poin saja. Artinya masih banyak skenario untuk lolos ke Rusia tahun depan. Uruguay, Chile, Kolombia, Peru, Argentina dan Paraguay akan saling sikut untuk dapat berlaga di ajang Piala Dunia.

Swedia yang akan menjegal langkah Belanda via bbci.co.uk

Dari sekian banyak negara yang akan mempertaruhkan nasibnya di pertandingan terakhir  babak kualifikasi, mungkin hanya Belanda yang kemungkinan lolosnya paling kecil. Arjen Robben cs akan melakoni laga tandang ke Swedia dan harus menang dengan skor setidaknya 7-0. Sebuah ketidak mungkinan yang akan selalu disemogakan oleh seluruh pendukung de Oranje. Saat ini Belanda berada di posisi 3 dengan selisih 3 poin dari Swedia yang berada di peringkat ke 2.

Dengan asumsi Belanda menang, poin keduanya akan sama yakni 19 poin. Tapi kemenangan itu tidak akan berarti bagi Belanda jika selisihnya kurang dari 7 gol. Swedia surplus 19 gol sementara Belanda hanya 8 gol. Mengingat di pertemuan pertama kedua tim bermain imbang 1-1, rasanya cukup sulit bagi Belanda untuk menang dengan skor telak sebanyak itu.

Seandainya gagal lolos, maka itu bukanlah hal baru bagi Belanda. Sebagai penemu taktik total football, negeri kincir angin itu tercatat hanya berpartisipasi di 10 kali turnamen piala dunia dari total 20 kali penyelenggaraan. Prestasi tertingginya pun hanya sebatas runner-up.  Mungkin yang membuat kaget kalau Belanda sampai tidak lolos adalah status mereka sebagai runner-up dan peringkat 3 dari 2 kali penyelenggaraan piala dunia terakhir.

Menggantungkan nasib di pertandingan lain via zimbio.com

Hal yang berbeda dialami oleh Argentina. Meski peluang lolosnya lebih besar daripada Belanda, tapi kalau sampai gagal maka itu akan menjadi aib tersendiri bagi Messi dkk. Sebab sepanjang sejarah keikutsertaan tim tango di piala dunia, mereka hanya gagal melewati fase kualifikasi pada tahun 1970 saja. Kalaupun di beberapa edisi mereka sempat tidak tampil, itu bukan karena tidak lolos kualifikasi melainkan memang tidak mengirimkan skuad ke piala dunia.

Apalagi fakta sejak menjadi runner-up di tahun 1990, Argentina selalu berhasil melewati babak penyisihan grup di putaran final piala dunia yang membuktikan bahwa penampilan mereka cukup stabil. Selain itu akan sangat memalukan tentunya kalau runner-up Piala Dunia 2014 ini hanya menjadi penonton di tahun 2018 nanti.

Kita tentu tidak akan bisa membayangkan bagaimana reaksi publik Argentina seandainya Messi cs gagal lolos. Mungkin itu akan menjadi puncak penderitaan  setelah kalah di final Piala Dunia 2014, Copa Amerika 2015 serta Copa Amerika Centenario 2016. Seakan-akan generasi Leonel Messi, Sergio Aguerro, Di Maria, Higuain serta Mascherano adalah generasi yang gagal.

Belum berkontribusi untuk timnas Argentina via zimbio.com

Sungguh menjadi hal yang sangat ironis mengingat pemain-pemain diatas adalah andalan di klubnya masing-masing. Apalagi Messi, yang berulang kali menjadi pemain terbaik dunia, namun belum bisa berbuat banyak saat berkostum Argentina. Satu-satunya cara agar tidak dikenang sebagai generasi yang gagal adalah dengan bermain habis-habisan melawan Ekuador nanti sambil berharap negara-negara pesaingnya  terpeleset.

Mengingat sepakbola bukanlah matematika, kemungkinan masih akan selalu ada sebelum peluit panjang dibunyikan. Kita tunggu saja kejutan apa yang akan terjadi di pertandingan terakhir fase kualifikasi nanti.

Komentar

Bola

Hasil Jornada ke-14 LaLiga Spanyol, Barcelona Masih Memimpin Klasemen

Published

on

By

Tertundanya laga el clasicco antara Barcelona melawan Real Madrid tampaknya tak terlalu berpengaruh pada posisi kedua penguasa LaLiga itu di klasemen sementara. Barcelona masih memimpin klasemen dengan 28 poin. Sedangkan Real Madrid berada di posisi kedua dengan poin yang sama tapi kalah dalam produktifitas gol.

Melawat ke markas Leganes, el Barca harus mengakhiri babak pertama dengan kondisi tertinggal 1-0 lewat gol En Nesyri di menit ke-12. Barulah di menit ke-53 Barcelona berhasil menyamakan kedudukan lewat sepakan Luiz Suarez. Sebelas menit jelang waktu normal berakhir, Arturo Vidal mencetak gol untuk memastikan kemenangan Barcelona. Skor 1-2 bertahan hingga peluit panjang dibunyikan.

Di Santiago Bernebau, Real Madrid juga melakukan comeback. Menjamu Real Sociedad, el real harus tertinggal lebih dulu lewat gol cepat yang dicetak oleh Willian Jose pada menit ke-2. Karim Benzema menyamakan skor pada menit ke-37. Babak pertama berakhir dengan hasil imbang 1-1.

Tiga menit usai kick off babak kedua, Real Madrid berbalik unggul lewat gol Federico Valverde. Luca Modric menutup kemenangan Madrid melalui golnya dimenit ke-74. Sama-sama baru melakoni 13 laga, Barcelona dan Real Madrid sudah unggul 3 poin atas pesaing terdekatnya, Atletico Madrid yang menghuni posisi 3 dengan 25 poin.

Berbeda dari Serie A dan Liga Inggris, persaingan di LaLiga masih terbilang sengit. Selisih poin penghuni 4 besar tidak terlalu jauh. Masih cukup sulit memprediksi siapa yang akan bersaing di bursa perebutan gelar juara liga. Sementara itu laga el clasico jilid 1 musim ini baru akan digelar pada tanggal 18 Desember 2019 mendatang.

 

Komentar
Continue Reading

Bola

Giornata ke-13 Serie A, Inter Milan Masih Tempel Ketat Juventus

Published

on

By

Ada yang berbeda dari Liga Italia musim ini. Dominasi Juventus, setidaknya hingga pekan ke-13, tidak begitu sehebat musim-musim sebelumnya. Adalah Inter Milan yang membuat Juventus “tersaingi” musim ini.

Kemenangan Juventus di markas Atalanta memang membuat anak asuh Sarri itu tetap berada di puncak klasemen. Akan tetapi di posisi kedua, Inter Milan, tetap setia menguntit dengan selisih satu poin saja.

Melawat ke markas Torino, I Nerazurri berhasil mengamankan 3 poin lewat kemenangan 0-3 atas Torino. Gol-gol kemenangan Inter Milan dicetak oleh Martinez dan De Vrij pada babak pertama dan satu gol lagi oleh Romelu Lukaku pada babak kedua. Beberapa jam sebelumnya, Juventus berhasil melakukan comeback di markas Atalanta.

Tertinggal lebih dulu melalui gol Robin Gosens pada menit ke-56, si Nyonya Tua lantas merespons melalui dua gol Gonzalo Higuain dan satu gol dari Paulo Dybala. Ketidakhadiran Cristiano Ronaldo yang tidak fit nyatanya tak terlalu berpengaruh signifikan pada penampilan Juventus. Sama seperti Liverpool di Liga Inggris, Juventus juga masih belum terkalahkan di ajang liga sampai pekan ke-13 dengan raihan 11 kemenangan dan dua kali imbang.

Sementara itu Inter Milan di posisi kedua sejauh ini telah meraih 11 kali menang, sekali imbang, dan sekali kalah. satu-satunya kekalahan yang diderita Inter adalah menyerah 1-0 dari Juventus. Selisih 7 poin dari peringkat ketiga yang dihuni Lazio setidaknya cukup membuktikan bahwa Liga Italia musim ini hanya akan menjadi ajang rebutan antara Juventus dengan Inter Milan.

Meskipun demikian, persaingan di posisi 6 besar antara Lazio, Roma, Cagliari dan Atalanta tetap menarik untuk diikuti. Belum lagi jika runner up musim lalu, Napoli, sudah kembali ke performa terbaiknya. Kalaupun ada tim “besar” yang menderita, mungkin itu hanyalah AC Milan yang saat ini berada di peringkat ke-13.

 

Komentar
Continue Reading

Bola

Matchday ke-13 Liga Inggris, Liverpool Semakin Kokoh di Puncak Klasemen

Published

on

By

Keperkasaan Liverpool di Liga Inggris musim ini terus berlanjut. Usai menghantam Manchester City di pekan ke-12 dengan skor 3-1, malam tadi Sadio Mane dkk berhasil mempermalukan tuan rumah Crystal Palace dengan skor 1-2.

Kemenangan itu menjadikan the reds tetap kokoh di puncak klasemen dengan 37 poin, hasil dari 12 kali menang dan 1 kali imbang. Sedangkan rival terberatnya, Manchester City, juga meraih hasil yang sama di Etihad Stadium.

Menjamu Chelsea, juara bertahan Liga Inggris itu harus tertinggal terlebih dahulu lewat gol Ngolo Kante sebelum dibalas oleh Kevin de Bruyne. Riyad Mahrez akhirnya memastikan kemenangan the citizen lewat sepakannya yang tak mampu dibendung oleh Kepa Arizbalaga di menit ke-37. Namun kemenangan ini harus dibayar mahal dengan cederanya Sergio Aguero. Belum bisa dipastikan kapan penyerang Argentina ini bisa kembali ke lapangan hijau.

Di kota London, Tottenham Hotspurs sukses mematahkan rekor buruk tampil di kandang lawan musim ini. Di bawah asuhan pelatih anyarnya, Jose Mourinho, the lilywhites berhasil mengalahkan West Ham United 2-3. Gol-gol kemenangan Tottenham Hotspurs dicetak oleh Son Heung Min, Lucas Moura, dan Harry Kane. Sedangkan gol West Ham dicetak oleh Antonio dan Ogbonna.

Sementara itu penghuni peringkat ke-2, Leicester City, juga tak kalah gemilang. Anak asuh Brendan Rodgers tersebut mampu mengamankan 3 poin saat melawat ke markas Brighton & Hove Albion. Dengan dua gol yang dicetak Ayoze Perez dan Vardy itu membuat Leicester City tetap menjaga jarak 8 poin dengan Liverpool di posisi pertama.

Denagn hasil-hasil tersebut, tak ada perubahan berarti di posisi empat besar klasemen Liga Inggris saat ini. Liverpool masih nyaman di puncak dengan 37 poin, disusul Leicester City di posisi kedua dengan 29 poin. Manchester City menggantikan posisi Chelsea di peringkat ke-3 sedangkan Chelsea melorot ke posisi 4 dengan 26 poin.

Komentar
Continue Reading

Trending