Connect with us

Bola

Para Pelatih yang “Balikan” Lagi ke Mantan Klubnya

Published

on

Tengah pekan ini jagad sepakbola Eropa dikejutkan oleh dua berita besar. Berita pertama adalah kemenangan dramastis Juventus 3 gol tanpa balas atas Atletico Madrid. Juventus memang akrab dengan kemenangan. Tapi menjadi lain soal ketika kemenangan itu diperoleh dari tim yang terkenal jago bertahan semacam Atletico-nya Simeone. Belum lagi bonus harus mengejar defisit 2 gol hasil kekalahan 0-2 di leg pertama. Makanya berita kemenangan Juventus itu cukup hangat untuk dibicarakan.

Berita yang kedua adalah kembalinya Zidane ke Real Madrid. Pelatih berkepala plontos itu sepertinya akan menjadi juru selamat kapal yang nyaris tenggelam bernama Real Madrid itu. Musim ini bisa jadi merupakan musim yang kacau balau bagi Madrid. Tercecer 12 poin dari Barcelona di puncak klasemen, tersisih di Copa Del Rey dan yang terakhir adalah dibantai Ajax 4-1 di ajang Liga Champions. Praktis hanya tinggal keajaiban saja yang bisa membawa Ramos dkk meraih trofi musim ini.

Berbicara soal pelatih yang “balikan” lagi ke mantan klubnya, tentu saja Zidane tidak sendirian. Ada beberapa nama besar yang balik lagi ke mantan klubnya setelah beberapa waktu lamanya “bubaran”.

  1. Jose Mourinho

images: e1.365dm.com

Jose Mourinho adalah otak dibalik kesuksesan Chelsea di era milenial. Pelatih yang baru saja dipecat MU ini menorehkan tinta emas di Stamford Bridge. Periode pertamanya di tahun 2004-2007 dihiasi dengan 2 gelar Liga Inggris, 1 Piala FA, dan 2 Piala Liga. Tahun 2007 menjadi akhir kebersamaannya dengan Chelsea.

Setelah itu ia menangani Inter Milan dan Real Madrid. Di tahun 2013 ia kembali lagi ke Chelsea. Di periode keduanya, Mou sukses mempersembahkan 1 gelar Liga Inggris dan 1 gelar Piala Liga. Sayangnya Mou harus dipecat di akhir tahun 2015 karena menurunnya penampilan the blues di Liga Inggris.

2. Kenny Dalglish

images: s-i.huffpost.com

Kopites pasti sangat mengenal sosok yang satu ini. Baik sebagai pemain maupun pelatih bagi Liverpool, King Kenny sama suksesnya. Periode kepelatihan pertamanya berlangsung dari tahun 1985 hingga 1991. Saat itu Liverpool dan klub Inggris lainnya sedang dalam masa sanksi larangan bermain di Eropa buntut dari tragedi Heysel. Kenny sukses mempersembahkan 3 gelar juara liga, 2 piala FA dan 4 Community Shield.

Periode keduanya terjadi di musim 2011-2012. Di tengah masa-masa sulit Liverpool pasca kepergian Benitez, manajemen the reds kembali memanggil King Kenny untuk menangani Steven Gerrard dkk. Sebuah gelar Piala Liga berhasil dipersembahkan Kenny Dalglish di musim yang singkat itu.

3. Jupp Heynckess

images: taiwannews.com

Heynckess melatih FC Hollywood selama tiga periode. Heynckes pertama kali menukangi Bayern Munchen pada tahun 1987 hingga 1991 lalu. Selama empat musim melatih Bayern, Jupp Heynckes sukses meraih 4 gelar yakni 2 gelar Bundesliga dan 2 gelar DFB Super Cup. Periode keduanya dimulai pada tahun 2011 ketika menggantikan Van Gaal yang dipecat.

Torehan suksesnya tentu saja mengantarkan Bayern meraih trebel winner di musim 2012-2013. Usai keberhasilan tersebut, Heynckess memutuskan untuk pensiun. Namun ia terpanggil kembali menangani Bayern ketika Ancelotti dipecat pada tahun 2017. Di akhir musim ia kembali mempersembahkan gelar Bundesliga dan pensiun untuk kedua kalinya.

4. Fabio Capello

images: eurosport.com

Capello menjadi pelatih Milan dua kali. Periode pertama berlangsung dari tahun 1991 sampai tahun 1996. Empat gelar scudetto dan 1 trofi Liga Champions berhasil ia persembahkan. Di musim 1996-1997, Capello pindah ke Madrid. Hanya satu musim saja ia bertahan ibukota Spanyol itu. Di musim 1997-1998 Capello kembali ke Milan. Sayangnya Capello gagal mempersembahkan trofi di periode keduanya tersebut.

5. Claudio Ranieri

images: ghanasoccernet.com

Selain Zidane, ada nama Ranieri yang terlebih dahulu balikan sama sang mantan. Pelatih yang sukses membawa Leicester City juara Liga Inggris itu dipilih manajemen AS Roma untuk menggantikan posisi Eusebio Di Francesco yang dipecat. Ini adalah kali kedua Ranieri menangani Roma. Sebelumnya Ranieri pernah menangani AS Roma di tahun 2009 sampai tahun 2011. Di periode pertamanya ia nyaris membawa serigala ibukota meraih scudetto.

6. Leonardo Jardim

images: cdn.vox-cdn.com

Di musim 2016-2017 AS Monaco membuat kejutan dengan menjadi juara Liga Prancis mengakhiri dominasi PSG selama beberapa musim. Selain meroketkan nama Mbappe, sosok dibalik kesuksesan itu adalah Leonardo Jardim. Pelatih berusia 44 tahun itu memainkan sepakbola yang atraktif bagi Monaco sehingga bisa menjadikan klub tersebut kompetitor yang sengit bagi PSG. Namun serangkaian hasil buruk di awal musim 2018-2019 membuat ia dipecat oleh Monaco.

Pergantian pelatih ke tangan Thiery Henry nyatanya tak membuahkan hasil positif. Monaco justru terlempar mendekati zona degradasi. Manajemen akhirnya memecar Henry dan memanggil kembali Jardim untuk menangani Monaco.

Komentar

Bola

Hasil dan Klasemen Sementara Kualifikasi Piala Asia U-23 Grup K

Published

on

By

Matchday 1 Kualifikasi Piala Asia U-23 Grup K telah selesai digelar. Pesta gol terjadi di dua pertandingan berbeda. Di pertandingan pertama timnas Thailand sukses mengalahkan timnas Indonesia dengan skor 4-0. Di pertandingan kedua giliran timnas Vietnam yang pesta gol ke gawang Brunei Darussalam dengan skor 6-0.

Dalam pertandingan yang digelar di My Dinh Stadium, skuat Garuda Muda praktis tak bisa berbuat banyak kala menghadapi Thailand. Di babak pertama anak asuh Indra Sjafri tersebut nyaris dikurung terus di zona pertahanan. Tercatat hanya ada satu tembakan ke arah gawang Thailand di sepanjang babak pertama.

images: detik.com

Gol Shinnaphat Leeaoh pada menit ke-21 membuat tim gajah putih menutup babak pertama dengan keunggulan 1-0. Memasuki lima menit babak kedua, pelanggaran Rachmat Irianto di kotak penalti membuat wasit menunjuk titik putih. Supachai yang menjadi eksekutor sukses menaklukkan Awan Setho untuk menggandakan keunggulan Thailand.

Di menit ke-71 Supachai kembali mencatatkan namanya ke papan skor lewat sebuah tendangan jari darak dekat. Hanya berselang tiga menit kemudian Thailand berhasil menambah gol melalui kaki Supachok Sarachat. Skor 4-0 bertahan sampai peluit panjang dibunyikan.

images: detiksports.com

Nasib lebih nahas dialami Brunei Darussalam. Bertanding di pertandingan kedua, timnas Brunei Darussalam harus menelan hasil pahit dengan takluk 6 gol tanpa balas dari Vietnam.

Vietnam yang tampil menyerang membuka keunggulan pada menit ke-10. Ha Duc Chinh berhasil mencetak gol pembuka  lewat tandukan keras dari jarak dekat. Empat menit berselang, skor berubah menjadi 2-0 ketika tandukan Huynh Tan Sinh yang menghantam tiang diteruskan oleh Nguyen Thanh Chung untuk memperlebar keunggulan.

Tendangan jarak jauh Dinh Thanh Binh di menit-menit akhir babak pertama membuat kedudukan berubah menjadi 3-0 untuk Vietnam. Ketika babak kedua memasuki menit ke-15, Trieu Viet Hung berhasil  memaksimalkan umpan Nguyen Quang Hai untuk mencetak gol.

Sial bagi Brunei, pelanggaran keras yang dilakukan oleh pemain bertahannya membuat wasit mengeluarkan kartu merah dan memberikan hadiah penalti pada pertengahan babak kedua. Huynh Tan Sinh yang ditunjuk sebagai eksekutor sukses menjalankan tugasnya.

Quang Hai menutup pesta gol Vietnam lewat titik putih di masa injury time. Kemenangan besar Vietnam ini membuat mereka menggusur Thailand di puncak klasemen. Skuat Garuda Muda berada di posisi ketiga sedangkan Brunei Darussalam berada di dasar klasemen.

Berikut klasemen sementara kualifikasi Piala Asia U-23 grup K.

images: www.flashscore.co.id

H

Komentar
Continue Reading

Bola

Ezra Walian Masih Memungkinkan Untuk Tampil Bersama Timnas Indonesia

Published

on

By

Jelang bergulirnya kualifikasi Piala Asia U-23, satu permasalahan besar muncul di timnas Indonesia U-23. Pemain naturalisasi Ezra Walian dinyatakan tidak sah untuk bermain di ajang tersebut oleh FIFA. Keputusan yang muncul hanya beberapa hari jelang berlangsungnya babak kualifikasi ini tentu saja cukup berpengaruh bagi persiapan tim.

Tanpa bermaksud mengecilkan kemampuan pemain lain, kealpaan Ezra jelas akan mengurangi opsi penyerang di skuat Garuda Muda. Sedikit banyak hal ini juga turut mengganggu konsentrasi anak asuh Indra Sjafri.

Keputusan FIFA untuk mem-banned Ezra terbilang cukup aneh. Ezra Walian sudah resmi jadi warga negara Indonesia sejak tahun 2017 dan telah ikut serta bermain di berbagai kejuaraan bersama Timnas Indonesia di era Luis Mila. AFC sendiri sebagai pemegang otoritas sepakbola tertinggi di Asia sebenarnya juga sudah tahu kalau Ezra pemain naturalisasi.

Namun entah kenapa status Ezra Walian baru dipermasalahkan jelang babak kualifikasi Piala Asia U-23. Adalah AFC sendiri yang meminta PSSI untuk berkoordinasi dengan FIFA dan KNVB (PSSI-nya Belanda) terkait dengan status Ezra Walian. Hasilnya kita tahu sendiri, kemarin sang pemain telah resmi dibanned.

Alasan dari FIFA

images: tribunnews

Dari pernyataan KNVB tertanggal 15 Maret 2019, Ezra Walian dipermasalahkan karena telah bermain dua pertandingan untuk Timnas Belanda di level U-17 dalam turnamen resmi pada 19 Oktober 2013 dan 22 Oktober 2013. Alhasil Ezra dilarang tampil untuk negara barunya karena pernah bermain untuk negara lamanya di kompetisi resmi.

Dalam kasus ini FIFA merujuk Pasal 8 dalam Statuta FIFA bagian Regulations Governing the Application of the Statutes. Pada ayat 1b memang disebutkan bahwa “pemain yang berpindah kewarganegaraan tidak diizinkan bermain untuk negara barunya di kompetisi apapun jika dia sudah bermain untuk negara sebelumnya.”

Pemain lain dengan kasus serupa

images: www.uefa.com

Tapi anehnya kasus yang sama tidak hanya menimpa Ezra Walian. Beberapa nama besar pemain dunia juga pernah mengalaminya. Sebut saja Thiago Motta dan Emerson Palmieri. Sebelum membela timnas Italia, Motta pernah bermain untuk Brasil di Piala Amerika U-17 di tahun 1998.

Emerson Palmieri lebih hebat lagi. pemain yang kini sudah membela timnas Italia sebanyak 2 kali tersebut merupakan pemain inti yang membawa Brasil U-17 menjuarai Piala Dunia U-17. Lebih sensasional bukan?

Kasus larangan bermain sendiri pernah dialami oleh pemain Thailand Charyl Chappuis. Rekam jejaknya bersama timnas Swiss di Piala Dunia U-17 sempat membuat statusnya dipertanyakan. Alhasil ia tak ikut bermain di ajang kualifikasi Piala Asia 2015. Meskipun demikian toh pada akhirnya Chappuis telah bermain dengan timnas senior Thailand dan saat ini sudah ikut bertanding sebanyak 20 kali.

Mungkinkah FIFA merubah keputusannya?

images: cdn1-production-images-kly.akamaized.net

Melihat serangkaian kasus di atas, bukan tidak mungkin FIFA meralat keputusannya. FIFA masih memberikan kesempatan banding kepada Indonesia. Kalaupun tak bisa dilakukan banding, FIFA juga masih memberikan peluang untuk mengangkat kasus ini ke Pengadilan Arbitrase Olahraga. Ratu Tisha selaku Sekjen PSSI menyatakan bahwa PSSI akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan kasus ini.

Jadi, masih ada kemungkinan bagi Ezra Walian untuk mengenakan seragam kebanggaan dengan Garuda di dada. Hanya saja, untuk ajang kualifikasi Piala Asia U-23 ia tetap harus tampil sebagai penonton saja lantaran statusnya yang masih mengambang. Kita doakan saja semoga ada jalan keluar terbaik dalam permasalahan ini, sehingga tak ada pihak-pihak yang dirugikan.

 

Komentar
Continue Reading

Bola

Mereka yang Lolos ke Perempat Final Piala Presiden 2019

Published

on

By

Ajang turnamen pramusim paling hits di dunia Indonesia, Piala Presiden 2019, baru saja usai menggelar fase penyisihan grup. Sebanyak 8 tim terbaik dari 5 grup berhasil lolos ke perempat final. Masing-masing terdiri dari 5 kesebelasan pemuncak klasemen dan 3 kesebelasan peringkat dua terbaik.

Persebaya Surabaya berhasil lolos dengan status juara grup A. Bajul ijo mengoleksi jumlah poin yang sama dengan PS Tira-Persikabo di posisi kedua, namun unggul dalam produktifitas gol. Namun PS Tira-Persikabo tetap lolos ke delapan besar karena termasuk dalam salah satu peringkat dua terbaik.

Juara Liga indonesia tahun 2017, Bhayangkara FC, menjadi satu-satunya wakil dari grup B. Klub berjuluk the guardians tersebut mengantongi poin sempurna dari tiga laga. Sedangkan Bali United gagal lolos karena tak masuk dalam runner-up terbaik.

Grup C juga hanya mengirimkan satu wakil saja ke perempat final. Tim promosi Kalteng Putra membuat kejutan dengan menyingkirkan Persipura Jayapura dan PSIS Semarang.

Dua klub bertabur bintang, Persija Jakarta dan Madura United menjadi wakil grup D ke babak delapan besar. Sama-sama mengantongi tujuh poin, Persija duduk di peringkat pertama karena memiliki selisih gol yang lebih baik daripada laskar sapeh kerab.

Di grup E, dua tim asal Jawa Timur sukses melaju ke perempat final. Kedua tim tersebut adalah Persela Lamongan dan Arema Malang.

Meskipun sekedar ajang pemanasan sebelum bergulirnya Liga 1, tapi gengsi Piala Presiden sangatlah tinggi. Mungkin salah satu penyebabnya adalah besarnya hadiah yang diterima kontestan. Di babak penyisihan saja, klub yang kalah mendapatkan bonus 75 juta rupiah. hasil imbang dihargai 100 juta rupiah dan kemenangan 125 juta rupiah.

Hadiah tersebut akan semakin besar jika terus lolos sampai partai puncak. Jadi cukup wajar bila klub-klub yang bermain di Piala Presiden bertanding habis-habisan seperti di kompetisi resmi.

Komentar
Continue Reading

Trending

Copyright © 2017 HitsBanget.com. Powered by WordPress.