Connect with us

Olahraga

Asian Games 2018: Bonus Para Atlet Cair Bulan Depan, Berikut Rincian Nominalnya

Published

on

Asian Games 2018 sudah hampir usai dan perolehan medali sementara untuk Indonesia adalah 30 emas, 23 perak, dan 40 perunggu. Dan sesuai dengan komitmen pemerintah bahwa setiap atlet yang berprestasi akan mendapatkan bonus dengan nilai fantastis.

“Bonus ini diberikan baik bagi atlet maupun pelatih dan asisten pelatihnya,” kata Menpora seperti dikutip dari website Sektariat Kabinet, Jumat (31/8/2018).

Menpora mengatakan, bonus tersebut akan langsung dikirimkan ke rekening para atlet, pelatih dan asisten pelatih.

Untuk nominalnya, para penerima bonus akan menerima utuh tanpa adanya potongan pajak. Para atlet juga akan diangkat menjadi PNS dan akan diberikan bonus rumah pada setiap atlet peraih medali.

Tim Paralayang Indonesia (dari kiri ke kanan) Jafro Megawanto, Roni Pratama, Hening Paradigma, Joni Efendi, Aris Apriansyah. Berfoto bersama setelah pengalungan medali emas untuk nomor ketepatan mendarat beregu putra Asian Games 2018 di Cisarua, Puncak, Bogor, Jawa Barat, Kamis (23/8). ANTARA FOTO/INASGOC/Crack Palinggi/Ast/18.

Berikut nominal bonus yang diberikan untuk para atlet:

1. Atlet perorangan:

– Emas Rp 1,5 miliar
– Perak Rp 500 juta
– Perunggu Rp 250 juta

2. Atlet beregu:

– Emas Rp 750 juta per-orang
– Perak Rp 300 juta per orang
– Perunggu Rp 150 juta per orang

3. Pelatih perorangan/ganda:

– Emas Rp 450 juta
– Perak Rp 150 juta
– Perunggu Rp 75 juta

4. Pelatih beregu:

– Emas Rp 600 juta
– Perak Rp 200 juta
– Perunggu Rp 100 juta

5. Pelatih untuk medali kedua dan seterusnya:

– Emas Rp 225 juta
– Perak Rp 75 juta
– Perunggu Rp 37,5 juta

6. Asisten pelatih perorangan/ganda:

– Emas Rp 300 juta
– Perak Rp 100 juta
– Perunggu Rp 50 juta

7. Asisten pelatih beregu:

– Emas Rp 375 juta
– Perak Rp 125 juta
– Perunggu Rp 62,5 juta

8. Asisten pelatih untuk medali kedua dan seterusnya:

– Emas Rp150 juta
– Perak Rp 50 juta
– Perunggu Rp 25 juta.

Bagaimana, masih ragu untuk menjadi atlet ? hobi yang menyehatkan, bisa berprestasi mengharumkan nama bangsa, serta mempunyai masa depan yang terjamin ! Kurang apa coba ?

Komentar
Continue Reading

Bola

Lika-liku Karir Nicolo Zaniolo, Anak Muda yang Baru Saja Membuat Rekor Baru di AS Roma

Published

on

By

Banyak yang mempertanyakan keputusan manajemen AS Roma ketika menjual Radja Nainggolan ke Inter Milan di musim panas lalu. Pemain berdarah Batak itu menjadi jenderal lini tengah AS Roma di musim sebelumnya. Akan tetapi di musim ini ia harus berseragam biru-hitam. Tambah aneh lagi adalah penggantinya.

Dalam klausul penjualan Nainggolan, Inter akan menukarnya dengan Nicolo Zaniolo dan Davide Santon (serta sejumlah uang tentunya). Who is Nicolo Zaniolo?

Tentu saja menggantikan sosok seperti Nainggolan dengan Nicolo Zainolo bukan perkara mudah. Zaniolo adalah seorang anak muda yang bisa dibilang punya potensi. Hanya saja ia mengalami kendala dalam hal konsistensi. Kendala itu juga yang membuat klub masa kecilnya, Fiorentina, mendepaknya dengan alasan tak punya masa depan.

Ia pun lantas bergabung dengan Virtus Entella yang bermain di seri C. Penampilannya di sana juga terbilang tak cukup memuaskan karena hanya bermain sebanyak 7 kali. Kalaupun kemudian Inter Milan datang meminangnya, bisa jadi itu merupakan garis takdir keberuntungannya.

images: asroma.com

Tak pernah sekalipun merasakan debut di tim senior Inter Milan, Zaniolo langsung berganti seragam dari biru-hitam ke merah-kuning. Di Francesco seperti punya keyakinan tersendiri kalau Zaniolo adalah anak muda yang berbakat. Dan kini setidaknya keyakinan Di Francesco bisa dipertanggung jawabkan.

Sejauh ini Nicolo Zaniolo telah tampil sebanyak 11 kali di Seri A. Dari jumlah penampilan sebanyak itu ia hanya tampil sebagai pemain pengganti sebanyak 3 kali. Ia juga sudah mencetak 3 gol yang masing-masing dicetak ke gawang Sassuolo, Torino, dan Milan.

Yang paling terbaru dini hari tadi. Dua golnya ke gawang Iker Casillas membuat harapan Roma untuk melaju ke perempatfinal Liga Champions terbuka lebar. Sepasang gol itu juga membuatnya mengukir rekor baru yaitu sebagai pemain termuda Italia yang mencetak brace di Liga Champions dan pemain termuda AS Roma yang mencetak gol di UCL.

Mengingat usianya yang masih sangat muda, perjalanan Zaniolo masihlah sangat panjang. Perjalanannya menjadi pemain besar masih cukup jauh. Bakat alami tanpa adanya konsistensi hanya akan sia-sia saja. Semoga sentuhan tangan dingin Di Francesco mampu mengeluarkan kemampuan terbaik dari Nicolo Zaniolo.

Komentar
Continue Reading

Bola

Kelemahan Strategi Solskjaer yang Menjadi Titik Lemah Manchester United

Published

on

By

Dini hari tadi hingar bingar Liga Champions Eropa dimulai kembali. Dua laga digelar di dua negara berbeda yakni Inggris dan Italia. Di kota Manchester, MU yang tengah on fire menjamu PSG yang tengah terlihat compang-camping usai Neymar dan Cavani cedera. Sedangkan di kota Roma, Porto melakoni laga tandang ke stadion Olimpico untuk berhadapan dengan AS Roma.

Bertindak sebagai tuan rumah, AS Roma cukup berhasil memuaskan para pendukungnya dengan kemenangan 2-1 atas Porto. Lain halnya dengan MU. Digadang-gadang bakal menang mudah atas PSG, setan merah justru harus tertunduk malu dengan kekalahan 0-2 di Old Trafford. Kemenangan PSG ini merupakan kemenangan perdana klub asal Prancis di theater of dream.

Pasca pemecatan Mourinho, Manchester United bisa dibilang sedang menikmati masa-masa bulan madu dengan Ole Gunnar Solskjaer. Rentetan kemenangan demi kemenangan berhasil diraih dengan mudah. Laga-laga sulit melawan Arsenal dan Tottenham Hotspurs juga berhasil ditutup dengan hasil positiv.

Dari segi permainan tim, perubahan yang signifikan sangat terlihat jelas. Mourinho membuat permainan MU terlihat sangat membosankan di akhir masa pemerintahannya. Mencoba mengandalkan pola bertahan dengan strategi parkir bus, MU justru terlihat bodoh karena tak punya bek-bek tangguh dan pemain sayap yang cepat untuk melakukan serangan balik. Situasi itu semakin diperparah dengan hilangnya sentuhan magis tangan De Gea yang selama beberapa musim terakhir menjadi juru selamat dari serangan bertubi-tubu ke lini pertahanan United.

Di bawah asuhan Solskjaer semua itu berubah. Sebagai mantan pemain yang berposisi sebagai striker, Solskjaer lebih menyukai gaya permainan menyerang dan atraktif. Bagi Solskjaer, pertahanan terbaik adalah menyerang. Mungkin dia melakukan itu lantaran stok bek tengah United hanya diisi oleh pemain sekaliber Phil Jones ataupun Smalling, bukan pemain macam Alessandro Nesta ataupun Sergio Ramos.

Sayangnya penampilan stabil di ajang Liga Inggris dan Piala FA tidak berlanjut di Liga Champions. Ketika banyak pihak menjagokan MU untuk memperoleh kemenangan mudah atas PSG, Thomas Tuchel justru membuat kejutan dengan “hanya” seorang Mbappe untuk mengacak-acak pertahanan United.

Kecepatan Mbappe di laga itu membuat Lindelof dan Erick Bailly kocar-kacir. Bahkan Lindelof dan Young sampai mendapatkan kartu kuning untuk menghentikan Mbappe. Kecepatan Mbappe jugalah yang membuat gawang De Gea bobol untuk kali kedua. Umpan silang Angel di Maria mampu dituntaskan dengan baik oleh pemain yang baru berusia 19 tahun itu.

images: newsapi.com.au

Paul Pogba si anak hilang Mourinho, dalam beberapa laga terakhir mampu menunjukkan level permainannya seperti ketika di Juventus dulu. Ia sukses mencetak 8 gol dan 5 assist dalam 11 pertandingan. Namun sayangnya Tuschel menaruh perhatian lebih pada pemain asal Prancis itu. Tuschel terlihat memberikan tugas khusus kepada Marquinhos untuk melakukan pengawalan kepada Pogba.

Pogba hanya mampu mengembangkan permainan di awal pertandingan saja. Selepas pertengahan babak pertama, Pogba benar-benar tak mampu lagi bergerak banyak. Keterbatasan pergerakan Pogba ini pulalah yang kemudian mempengaruhi permainan MU secara keseluruhan. MU tak mampu melakukan serangan dengan baik. Dari total 10 kali percobaan yang dilakukan, hanya 1 yang tepat sasaran.

Cederanya Lingard di babak pertama membuat daya gedor MU semakin menurun. Di awal babak kedua, giliran Martial yang ditarik keluar untuk digantikan Juan Matta. Praktis serangan dari kedua sisi sayap MU menurun dalam hal kecepatannya. Di saat seperti itu, gawang De Gea harus kebobolan oleh Kimpembe yang memanfaatkan tendangan sudut Di Maria. Tertinggal 0-1, MU mencoba meningkatkan intensitas serangan.

images: klimg.com

Pola pertahanan tinggi diterapkan barisan pertahan MU. Bola direct kepada Rashford dilakukan untuk memanfaatkan kecepatannya. PSG tak kurang akal, mereka bertahan sedalam-dalamnya. Solskjaer seolah lupa kalau PSG punya kecepatan untuk memaksimalkan serangan balik melalui Di Maria, Draxler, ataupun Mbappe. Hasilnya tentu saja gol yang dicetak oleh Mbappe di menit ke-60.

Dan untuk Pogba sendiri, kartu merah yang diterimanya pada menit ke-89 menjadi pelengkap derita bagi kekalahan United dini hari tadi. Leg kedua di Prancis nanti tampaknya akan menjadi laga yang sangat berat bagi MU. Kemungkinan untuk lolos dari lubang jarum semakin mengecil.

Bukan hanya itu saja, kekalahan ini juga membuka kegagalan strategi yang dilakukan Solskjaer. Seandainya ia tak merubah gaya main atau lihai dalam menempatkan line up pemain, maka bukan tak mungkin strategi MU ini akan dengan mudah dipatahkan oleh lawan-lawannya. Tinggal kunci Pogba, biarkan mereka frustasi, atau lakukan serangan balik. Maka MU tinggal berharap saja sarung tangan De Gea masih dilengkapi dengan lem alteco agar gawangnya tidak kebobolan.

Komentar
Continue Reading

Bola

06 Februari 1958: Mengenang Tragedi Manchester United di Munich

Published

on

By

Tepat di hari ini, 61 tahun yang lalu, klub raksasa Inggris Manchester United mengalami tragedi paling kelam dalam sejarahnya. Pesawat yang ditumpangi para pemain, pelatih, staff dan sejumlah jurnalis tergelincir ketika hendak lepas landas dari Bandara Munich-Riem, Jerman.

Tragedi itu dikenal dengan sebutan The Munich Disaster. Saat itu, Manchester United baru dalam perjalanan pulang menuju Manchester dari Belgrade usai melakoni laga tandang ke markas Red Star Belgrade di perempat final Piala Champions. United berhasil lolos ke semifinal setelah menang agregat 5-4 (2-1 di Old Trafford dan 3-3 di Belgrade). Sayangnya United tak bisa berlama-lama menikmati keberhasilan itu. Keharusan untuk bermain di ajang Liga Inggris membuat United harus segera pulang.

Oleh karena itulah mereka menyewa pesawat Airspeed Ambassador milik British European Airways (BEA). Dalam pesawat tersebut berisikan 44 orang. Tragedi tersebut bermula ketika pesawat diharuskan untuk mengisi bahan bakar di Munich, Jerman. Eropa yang kala itu sedang dilanda musim dingin membuat kondisi bandara tertutup lapisan salju.

Ditengah berlangsungnya hujan salju, pesawat milik maskapai BEA itu mengalami gangguan mesin. Kapten Thain yang menjadi pilot 2 kali gagal melakukan lepas landas. Pihak bandara sebenarnya telah memberikan arahan untuk menunda keberangkatan dan menginap semalam dulu di Munich.

Namun karena takut terlambat jadwal dan tak ingin menginap di Munich, Kapten Thain memutuskan untuk kembali mencoba lepas lendas. Dan percobaan ketiga kalinya itulah yang kemudian membawa bencana bagi skuat Manchester United.

Salju yang lebat dan adanya lumpur di landasan pacu membuat pesawat tergelincir. Pesawat naas tersebut lantas oleng dan menabrak pagar pembatas. Sayap pesawat bahkan mengenai sebuah rumah sehingga membuatnya hancur berkeping-keping.

Sebanyak 20 orang tewas seketika dalam insiden itu. Sisanya segera dilarikan ke rumah sakit Rechts der Isar di Munich. Sayangnya tidak semua korban selamat berhasil hidup. Tiga orang kemudian meninggal setelah dirawat sehingga total korban selamat menjadi 21 orang.

Kapten Thain sendiri termasuk salah satu korban selamat. Ia dinyatakan bersalah oleh pihak otoritas penerbangan Jerman Barat. Hanya saja setelah melalui rangkaian investivigasi lanjutan, ia divonis tidak bersalah oleh pihak Inggris. Adanya salju dan lumpur di ujung landasanlah yang dijadikan sebagai alasan utama terjadinya kecelakaan itu.

Pemain Manchester United yang tewas adalah Geoff Bent, Roger Byrne, Eddie Colman, Duncan Edwards, Mark Jones, David Pegg, Tommy Taylor, Liam “Billy” Whelan. Staf: Walter Crickmer (sekretaris klub), Tom Curry (trainer), Bert Whalley (salah satu pelatih kepala). Mereka semua dikenal sebagai “the Busby Babes”, merujuk pada nama pelatih mereka kala itu, Sir Matt Busby.

Dengan skuat yang compang-camping, MU tetap melakoni laga semifinal melawan AC Milan beberapa bulan kemudian. Dan hasilnya bisa ditebak, United kalah. Harapan Busby untuk membawa United merajai Eropa gagal. Mereka harus merangkak dari bawah lagi untuk membentuk tim yang tangguh. Barulah 10 tahun kemudian, Busby berhasil membawa United menjuarai Piala Champions.

images: staticflickr.com

Untuk mengenang tragedi Munich, dibangunlah suatu monumen di sudut tenggara Stadion Old Trafford. Monumen itu berbentuk sebuah jam yang bertuliskan Munich 6 Februari 1958 dan dikenal dengan sebutan the Munich clock. Jam besar yang tampak tua itu akan selalu mengingatkan bahwa dalam perjalanan panjangnya, Manchester United pernah mengalami suatu tragedi mengerikan yang tak akan dilupakan sepanjang masa.

Komentar
Continue Reading

Trending

Copyright © 2017 HitsBanget.com. Powered by WordPress.