Connect with us

Bola

Andrea Pirlo : I Think Therefore I Play

Published

on

images : mirror.co.uk

Minggu 05 November 2017 menjadi hari yang cukup bersejarah bagi Andrea Pirlo. Maestro sepakbola asal Italia itu melakoni pertandingan terakhirnya sebagai pemain sepakbola profesional di New York City. Dalam pertandingan melawan Colombus Crew itu Pirlo baru masuk di menit ke 90. Pertandingan itu pun berakhir dengan kemenangan New York City dengan skor 2-0.

Meski tidak menutup akhir karir dengan trofi (New York City tersingkir di semifinal MLS) akan tetapi pensiunnya Pirlo dari dunia sepakbola tetaplah memberikan kenangan manis. Mulai saat dia bermain mengawali karir di Brescia sampai dengan berpetualang ke benua Amerika. Satu hal yang layak untuk dikenang dari pemain yang menyukai nomor 21 ini yaitu kesunyiannya dalam menciptakan sepakbola yang indah.

Berbeda dari pemain tengah pada umumnya, Pirlo terlihat jauh dari kesan meledak-ledak dan beringas seperti teman-teman seangkatannya macam Roy Keane, Gattuso, Pavel Nedved ataupun Patrick Vieira. Gocekan ataupun tusukannya pun tidak selincah Paul Scholes, Ronaldinho maupun Rui Costa. Mungkin lebih tepatnya kita bisa menganggap Pirlo sebagai Steven Gerrard dalam versi yang lebih kalem.

Lihat saja bagaimana ia bisa menjadi jenderal di lini tengah Milan dan Juventus, dua klub raksasa Italia yang dibawanya juara. Begitu juga di timnas Italia, komando Pirlo di lini tengah Gli Azzuri akhirnya mampu mendatangkan gelar Piala Dunia 2006. Semua itu ia lakukan dengan penuh ketenangan (dan pemikiran yang tajam).

Jika ada pemain yang pindah ke klub rival namun namanya tetap harum di klub lamanya, maka orang itu adalah Andrea Pirlo. Kepindahan pertamanya terjadi pada tahun 2001 ketika pindah ke AC Milan dari Inter Milan. Pirlo yang kesulitan beradaptasi dengan Inter akhirnya memilih untuk bergabung ke Milan yang ketika itu dilatih Carlo Ancelloti. Bersama Seedorf, Gattuso dan Rui Costa, Pirlo membangun kekuatan lini tengah AC Milan.

Hasilnya pun bisa kita lihat bersama, 2 gelar Liga Champions, 2 gelar seri A, 1 Piala Super Italia, 2 Piala Super Eropa, 1 Piala Dunia antar klub serta 1 gelar Coppa Italia. Lantas bagaimana reaksi fans Inter Milan saat Pirlo menjalani derby della madonnina? Biasa saja, fans Inter menganggapnya tidak berbeda dari pemain Milan lainnya. Selain karena Pirlo yang jarang bermain ketika berseragam Nerazurri, ia pun tidak pernah melontarkan pendapat yang buruk mengenai klub lamanya itu.

Begitupun juga saat ia menyeberang ke Juventus pada tahun 2011. Pasca mengantarkan Milan juara seri A, Max Allegri yang menjadi altenatore Milan saat itu memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak Pirlo dengan alasan kemampuannya sudah menurun. Padahal sebenarnya Pirlo masih ingin bermain untuk Milan. Juventus yang sedang membangun kembali kejayaannya bersama Antonio Conte pun akhirnya membawa Pirlo ke kota Turin.

Melihat daya jelajah Pirlo yang menurun tapi tetap memiliki akurasi umpan yang tinggi, Conte pun menempatkan Pirlo sebagai deep-lying mildfielder yang bertuas menjaga kedalaman permainan dan mengirimkan umpan jauh ke depan. Dengan skema seperti itulah dari tahun 2011 sampai 2015, Pirlo selalu bisa membawa Juventus menjadi yang terbaik di seri A. Lalu bagaimana dengan AC Milan? Sepeninggal Pirlo (dan binang-bintang lainnya) prestasi Milan terus merosot.

Namun ketika kedua kesebelasan saling bersua, hampir tidak terdengar makian ataupun ejekan fans Milan kepada Pirlo. Bisa dibilang Pirlo terlalu baik hati utuk dicaci maki. Kepindahannya ke Juventus pun bukan sepenuhnya kemauan dia, tapi lebih karena Milan yang tak mau memperpanjang kontraknya. Bersama Juventus Pirlo yang dianggap sudah habis seperti terlahir kembali.

Kehebatan dan visi bermain Pirlo di lapangan mengundang decak kagum dan berbagai pendapat dari para pemain maupun pelatih. Berikut ini beberapa diantaranya.

“Pirlo itu pemimpin yang tidak banyak berbicara. Ia berbicara dengan kakinya.” Marcello Lippi, Pelatih Italia di Piala Dunia 2006.

“Pirlo bisa melakukan apapun dengan kakinya. Dia itu orang genius.” Johan Cruyff, Legenda Sepakbola Belanda.

“Mendapatkan pemain dengan level permainan seperti dirinya dan dengan harga gratis adalah pembelian terbaik abad ini”. Buffon, Kapten Juventus ketika si Nyonya Tua mendapatkan Pirlo secara gratis dari Milan

Tak ada gading yang tak retak. Dari sekian banyak kenangan manis selama bermain, tentu Pirlo juga memiliki kenangan buruk yang tak akan pernah dia lupakan. Salah satu kenangan buruk itu adalah kekalahan dari Liverpool di final Liga Champions 2005. Sempat unggul 3-0 dibabak pertama, Milan yang ketika itu lebih diunggulkan akhirnya harus menyerah melalui adu penalti setelah Liverpool melakukan comeback dengan mencetak 3 gol dalam waktu 6 menit.

Dalam bukunya I think therefore I play, Pirlo sampai mengungkapkan, Selalu ada pelajaran dari kejadian-kejadian terburuk. Kita semacam wajib menggali lebih dalam dan menemukan secercah harapan dari mutiara kebijaksanaan. Kamu mungkin berhasil menemukan kata-kata elegan untuk disimpan sehingga perjalanan tersebut tidak terasa tidak terlalu pahit. Aku sudah mencoba mencari hikmah di balik Istanbul dan sejauh ini aku belum menemukan kata selain ‘brengsek’.”

Kalaupun ada yang kurang dari Pirlo, mungkin hanya gelar pemain terbaik dunia saja yang belum ia rasakan. Walaupun demikian, pencapaian dan prestasinya selama bermain sepakbola jauh lebih berharga daripada bola emas (pemain terbaik dunia) tersebut. Grazie Andrea Pirlo….

Komentar

Bola

Hasil Liga Italia: AS Roma Kalahkan Lazio 3-1 di Laga Derby Della Capitale

Published

on

By

images: gazzettaobjects.it

Laga derby Ibukota Italia atau biasa disebut sebagai derby della capitale yang mempertemukan antara AS Roma vs Lazio baru saja berakhir. Serigala Ibukota yang bertindak sebagai tuan rumah menuntaskan laga dengan skor 3-1.

Sepanjang 20 menit pertama, pendukung AS Roma harus dibuat ketar-ketir karena jalannya pertandingan lebih didominasi oleh Lazio. Di menit ke-2 Ciro Immobile sudah mengancam gawang Roma, namun tendangannya masih membentur barisan pertahanan serigala ibukota. Selang 10 menit kemudian giliran Luis Alberto yang mengancam melalui sepakan dari luar kotak penalti. Sayang tendangannya tersebut masih mampu diblok oleh Federico Fazio.

Setelah itu giliran Roma yang mengambil alih kendali. Tusukan Dzeko di menit ke-22 diakhiri tendangan ke arah gawang Lazio yang dikawal Strakosha namun masih bisa diamankan. Begitu juga dengan upaya Pastore satu menit kemudian.

Pastore akhirnya ditarik keluar pada menit ke-37 karena mengalami cedera. Penggantinya adalah Lorenzo Pallegrini. Pada menit ke-45 gol yang dinantikan pendukung Roma akhirnya tercipta. Memanfaatkan kemelut di gawang Lazio, Pallegrini berhasil memanfaatkan bola liar untuk melakukan backheel ke gawang Strakosha. Skor 1-0 untuk Roma menutup babak pertama.

Di menit ke-67 Lazio berhasil menyamakan kedudukan. Kesalahan Fazio dalam mengontrol bola mampu dimanfaatkan dengan baik oleh Immobile untuk mencetak gol lewat tendangan yang mengarah ke tiang jauh.

Skor imbang tersebut hanya bertahan selama 4 menit saja. Tendangan bebas Kolarov tak mampu dibendung oleh Strakosha. Federico Fazio menebus kesalahannya dengan mencetak gol pada menit ke-86 memanfaatkan umpan Pallegrini. Sampai pertandingan berakhir skor 3-1 untuk kemenangan AS Roma tetap bertahan.

Kemenangan ini membuat AS Roma naik ke peringkat 5 dengan 11 poin hasil dari 3 kali menang, 2 kali imbang dan 2 kali kalah. Sementara Lazio berada di posisi 4 dengan raihan 12 poin hasil dari 4 kali menang dan 3 kali kalah.

 

Komentar
Continue Reading

Bola

Hasil Liga Inggris: MU Takluk 1-3 Dari West Ham

Published

on

By

images: dailymail.co.uk

Manchester United kembali menelan kekalahan. Setelah pada tengah pekan lalu kalah dari Derby County di ajang Piala Liga, kini giliran West Ham United yang mengalahkan MU di ajang Liga Inggris. Di Olympic Stadium London, MU menyerah 1-3 dari tim tuan rumah.

Pertandingan baru berjalan 6 menit ketika West Ham mencetak gol pertamanya. Serangan dari sisi kiri pertahanan MU berhasil dipatahkan dan bola mengalir ke kaki Mark Noble. Noble pun mengarahkan bola ke Pablo Zabaleta yang kemudian diteruskan kepada Felipe Anderson. Lewat tumitnya, Anderson mampu mengkonversi umpan matang Zabaleta tersebut menjadi gol pertama tim tuan rumah.

Kesempatan MU menyamakan kedudukan datang di menit ke-23. Umpan silang Ashley Cole disambut dengan tandukan kepala Romelo Lukaku. Sayangnya sundulan Lukaku hanya menerpa mistar gawang saja. Di penghujung babak pertama West Ham menambah keunggulan setelah Yarmolenko mampu memanfaatkan sedikit kemelut di depan gawang De Gea.

Bola tendangan Yarmolenko yang membentur kaki Lindelof tak mampu diamankan De Gea. Keunggulan 2-0 untuk West Ham menutup babak pertama. Untuk menambah daya serang, Mourinho memasukkan Rashford di babak kedua menggantikan Lindelof. Namun hal tersebut belum mampu memberikan dampak positif bagi MU.

Usaha MU memperkecil ketertinggalan di menit 64 melalui Fellaini juga masih menemui kegagalan. Tandukan pemain asal Belgia tersebut masih mampu dihalau Lukasz Fabianski. Barulah pada menit ke 70 gol yang dinantikan pendukung MU datang. Berawal dari tendangan sudut Luke Shaw, Rashford mampu memanfaatkannya menjadi gol lewat sebuah tendangan backheel di tiang dekat.

Sayangnya 4 menit kemudian West Ham kembali menambah keunggulan lewat kaki Arnautovic yang lolos dari jebakan offside. Ia mampu menaklukan De Gea lewat sepakan pelan namun terarah dalam posisi satu lawan satu. Skor 3-1 untuk kemenangan West Ham ini bertahan sampai peluit panjang dibunyikan.

Kekalahan ini merupakan yang ketiga kalinya bagi MU di ajang Liga Inggris. Dari 7 laga yang dijalani, MU hanya meraih 3 kemenangan, 1 kali imbang dan 3 kali kalah. Anak asuh Mourinho inipun hanya mampu mencetak 10 gol dan kebobolan 12 gol. Dengan kondisi seperti ini, banyak media-media yang sudah memberitakan bahwa tak lama lagi Mourinho akan dipecat.

Komentar
Continue Reading

Bola

Hasil Piala AFC U-16: Indonesia dan India Lolos ke Perempat Final

Published

on

By

Setelah beberapa hari dirudung kabar duka, akhirnya dunia sepakbola Indonesia mendapat kabar bahagia dari Malaysia. Timnas U-16 sukses melaju ke perempat final Piala Asia U-16 usai bermain imbang 0-0 dengan India.

Tambahan satu poin ini membuat Indonesia keluar sebagai juara grup C, unggul selisih gol atas India di posisi kedua. Indonesia mendapat 5 poin hasil dari 1 kali menang dan 2 kali imbang. Sedangkan India yang berada di posisi kedua memperoleh hasil yang sama namun hanya mampu mencetak 1 gol dari 3 laga yang dijalaninya. Indonesia sendiri mencetak 3 gol dan hanya kebobolan satu gol sehingga memiliki peringkat lebih baik dari India.

“Saya bangga puas dengan perjuangan mereka. Meski tak menang tapi puas dengan penampilan anak-anak karena bisa mendominasi pertandingan. Ini kemenangan kita semua, masyarakat Indonesia baik yang hadir di stadion maupun yang tidak hadir ke Bukit Jalil” kata pelatih timnas U-16 Fakhri Husaini usai laga yang dikutip dari detik.com (27/09/2018).

Sesuai bagan pertandingan, Indonesia akan berhadapan dengan runner up grup D. Laga penentuan di grup D sendiri baru akan digelar pada hari Jumat (28/09/2018). Negara-negara yang berpeluang menjadi lawan Indonesia adalah Korea Selatan, Australia dan Irak.

Meskipun lawan yang akan dihadapi relatif cukup berat, tapi banyak yang optimis kalau timnas U-16 akan mampu melenggang ke babak semifinal. Seandainya berhasil lolos ke semifinal, maka secara otomatis timnas U-16 akan bermain di Piala Dunia U-17 sebagai wakil dari konfederasi Asia.

Suatu kebanggaan tersendiri meskipun hanya untuk level junior. Semoga saja harapan untuk melihat skuat Garuda Muda tampil di ajang Piala Dunia (junior) tersebut dapat tercapai sebagai obat atas keringnya prestasi timnas senior yang sudah bertahun-tahun tak pernah merasakan gelar juara.

 

Komentar
Continue Reading

Trending

Copyright © 2017 HitsBanget.com. Powered by WordPress.